Kalau Memang Allah Maha Kaya Tak Butuh Apapun, Lantas Kenapa Dia Perintahkan Manusia Beribadah Kepada-Nya?

โœ๐ŸปUstadz Yani Fahriansyah

Di antara pertanyaan yang sering bergaung dalam benak para hamba, ada satu yang datang dengan nada heran, bahkan dengan bayang kecurigaan:

โ€œ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฅ๐™– ๐˜ผ๐™ก๐™ก๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ข๐™š๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™ž๐™ฉ๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™ž๐™—๐™–๐™™๐™–๐™ ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™–๐™™๐™–-๐™‰๐™ฎ๐™–, ๐™ฅ๐™–๐™™๐™–๐™๐™–๐™ก ๐˜ฟ๐™ž๐™– ๐™ˆ๐™–๐™๐™–๐™ ๐™–๐™ฎ๐™– ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™ช๐™ฉ๐™ช๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™–๐™ฅ๐™– ๐™ฅ๐™ช๐™ฃ?โ€

Pertanyaan ini lahir dari bumi, dari jiwa yang terbiasa menimbang langit dengan ukuran debu, dan mengukur Yang Mutlak dengan timbangan yang rapuh.

Manusia melihat dirinya: setiap gerak adalah kebutuhan, setiap usaha adalah kelaparan akan manfaat, setiap pemberian sering tersembunyi harap balasan. Lalu manusia membayangkan Allah serupa dirinya; dan di sanalah kekeliruan bermula.

Ketahuilah, wahai pencari makna:
perbuatan mengikuti zat pelakunya.

Yang lemah bergerak untuk menutup kelemahannya,
yang miskin bekerja untuk menambal kemiskinannya,
yang fana mencari sebab untuk menunda kefanaannya.

Tetapi Zat Yang Maha Sempurna tidak bergerak untuk menambal apa pun, karena tidak ada lubang dan celah pada kesempurnaan-Nya.

Ia bertindak karena kesempurnaan itu meluap,
seperti matahari yang memancar tanpa diminta,
seperti samudra yang menghampar tanpa takut surut,
seperti langit yang membentang tanpa meminta bumi menopangnya.

Allah melakukan apapun atas dasar kesempurnaan-Nya; dan apa yang Ia lakukan adalah kesempurnaan atas dasar nama-nama dan sifat-Nya.

Allah mencipta karena kesempurnaan nama Dia Al-Khฤliq,
Allah memberi rezeki kesempurnaan nama Dia Ar-Razzฤq,
Allah merahmati karena Dia Ar-Raแธฅmฤn dan Ar-Raแธฅฤซm,
Allah menegakkan keadilan karena Dia Al-โ€˜Adl,
Allah mengatur segala sesuatu dengan hikmah karena Dia Al-แธคakฤซm.

Nama-nama-Nya bukan sekadar sebutan,
melainkan mata air tindakan, dan setiap tindakan adalah gema dari kesempurnaan yang tidak mengenal setitik dan setetes kekurangan.

Pemberian-Nya tidak mengurangi kemuliaan-Nya,
sebagaimana cahaya tidak mengurangi matahari,
dan aliran sungai tidak mengurangi samudra yang menjadi asalnya.

Jika engkau bertanya kepada seorang manusia:
โ€œMengapa engkau melakukan ini?โ€

ia akan berkata:

โ€œKarena aku butuh.โ€
โ€œKarena aku takut rugi.โ€
โ€œKarena aku ingin untung.โ€

Dan jika ia berkata:

โ€œAku melakukannya tanpa sebab,โ€

maka itu adalah kehampaan; dan kehampaan adalah bentuk lain dari kekurangan.

Manusia terkurung di antara dua penjara:

(1) kebutuhan dan
(2) kesia-siaan.

Manusia melakukan ini dan itu atas dasar (1) kebutuhan baik meraih maslahat atau berupaya menolak mudharat; atau atas dasar (2) kesia-siaan.

Satu dan dua karena manusia tak lain makhluk yang lemah.

Tetapi Allah Mahasuci dari kebutuhan,
dan Mahatinggi dari kesia-siaan. Allah tak butuh apapun dan tak akan melakukan kesia-siaan.

Maka dengan ukuran apa engkau menyamakan perbuatan Sang Pencipta dengan perbuatan makhluk?

Apakah Yang Menopang langit dan bumi memerlukan debu yang ditopang-Nya?

Apakah Al-Qayyลซm, Yang Berdiri Sendiri dan Menegakkan segala sesuatu, membutuhkan sujud yang diciptakan-Nya sendiri?

Tidak.
Itu seperti menimbang gunung dengan neraca bulu,
dan mengukur samudra dengan cawan tanah liat.

๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ถ๐—ฝ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—บ๐˜‚ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ต?

Karena ibadah bukan kebutuhan Allah,
melainkan kebutuhan jiwa yang rapuh bernama manusia.

Ibadah adalah napas bagi ruh yang sesak,
adalah kompas bagi musafir yang tersesat,
adalah cahaya bagi mata yang berjalan di lorong gelap dunia.

Sebagaimana ayah menyuruh anaknya belajar demi masa depan,
sebagaimana tabib menyuruh pasiennya menjaga tubuh demi kehidupan,
demikian pula Allah menyuruh manusia beribadah demi keselamatan dan kemuliaan manusia.

Perintah itu bukan karena Dia butuh,
melainkan karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Penyayang.

Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
Dia menciptakan ibadah, menciptakan kehendak untuk melakukannya, dan menciptakan para hamba yang bersujud dalam kesunyian malam dan riuh siang.

Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.
Dia menciptakan ibadah, menciptakan kehendak untuk beribadah, dan menciptakan para hamba yang melakukannya. Jika seluruh makhluk berpaling, tidak berkurang kesempurnaan-Nya; jika seluruh makhluk taat, tidak bertambah keagungan-Nya.

Makhluk beribadah dan menyembah karena membutuhkan Allah. Allah menciptakan ibadah karena kesempurnaan-Nya meniscayakan pemberian dan rahmat.

Dan di ibadahlah manusia menemukan dirinya:
sebuah debu yang diberi kemampuan menatap langit,
sebuah jiwa yang dipanggil untuk kembali kepada Sumber segala cahaya.

Maka ibadah bukanlah beban bagi Yang Maha Tinggi,
melainkan karunia bagi yang rendah dan berjiwa rapuh;
bukan tuntutan bagi Yang Maha Sempurna,
melainkan jalan pulang bagi jiwa yang merindu asalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar