JIKA IRAN RUNTUH

✍🏻Saief Alemdar

Kalau Rezim Mullah yang berkuasa di Iran sejak Revolusi 1979 jatuh melalui aksi demonstrasi “yang ditunggangi” saat ini, banyak pihak yang menilai Shahanshah the Light of the Aryans akan kembali ke Istana Majmue Saadabad. Mereka juga meneriakkan “Cyrus the Great is back! Shapur II is back! Darius the Great is back! Khosrow is back!”. Tapi itu semua tidak akan terjadi setelah Rasulullah mengatakan “telah hancur Kisra dan tak ada Kisra setelahnya”.

Sejarah menunjukkan bahwa penggulingan rezim dengan kekerasan, dari Baghdad melewati Tripoli hingga Kabul, tidak pernah membawa demokrasi, namun itu hanya menciptakan kekosongan, dan kekosongan di Timur Tengah selalu diisi oleh pemain yang memiliki jaringan, uang, dan dinas intelijen yang bagus. Iran bukan hanya rezim mullah!

Iran adalah negara berpenduduk 90 juta jiwa, dengan lokasi strategis di Teluk Persia dan Laut Kaspia, program nuklir, rudal, dan pengaruh yang membentang dari Lebanon hingga Yaman.

Ketika negara ini tiba-tiba runtuh, bukan rakyatnya yang akan masuk menguasai negara, melainkan mereka yang telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.

Shah Pahlavi yang sedang disiapkan untuk memimpin Iran baru bukanlah penyelamat demokrasi, dia adalah putra dari rezim yang jatuh karena mereka terlalu tunduk kepada Barat, dan hubungan Pahlavi dengan Israel bukanlah hal yang tersembunyi. Pahlavi adalah pendukung Israel secara terang-terangan.

Pertanyaannya bukanlah apakah Shah Pahlavi “baik atau buruk,” namun pertanyaannya adalah ”akankah dia memerintah demi kepentingan Iran? Atau demi kepentingan mereka yang membawanya ke tampuk kekuasaan?”

Jatuhnya Iran sebagai negara merdeka—bukan hanya sebagai rezim—akan berarti perubahan total keseimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan dan di Teluk khususnya. Itu berarti Israel dan AS, untuk pertama kalinya, akan memiliki kehadiran langsung di sisi Teluk yang berhadapan dengan Arab Saudi dan UEA, dan itu akan berarti tekanan politik, keamanan, dan ekonomi terhadap semua ibu kota negara-negara Teluk, yang kelihatan saat ini sedang berupaya untuk bangun dari tidur lelap 100 tahun.

Pembubaran rezim Iran tidak akan membuat kawasan lebih damai. Timur Tengah tidak mampu menanggung tambahan failed state sebesar Iran…tapi pada akhirnya, biarlah rakyat Iran yang menentukan dan waktu yang menjawab. (*)

Komentar