Negara dapat membangun benteng setinggi gunung dan sekeras baja. Namun sejarah militer dan politik mengajarkan satu kebenaran pahit: benteng selalu runtuh bukan dari luar, melainkan dari dalam.
Bukan karena meriam musuh, tetapi karena manusia yang menjaganya.
Manusia bukan benteng yang tangguh. Ia rapuh di hadapan seks, uang, dan tahta.
Di titik inilah semua pertahanan fisik kehilangan makna.
Narasi yang beredar dari Caracas—tentang seorang jenderal dekat lingkar kekuasaan yang diduga menjual negara demi dolar—menggema sebagai kisah klasik pengkhianatan politik.
Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan itu secara hukum, polanya sangat tua dan berulang. Bahwa pengkhianatan tidak datang dari musuh yang terang, tetapi dari sahabat yang dipercaya.
Seperti ditulis Niccolò Machiavelli dalam Il Principe, ancaman paling berbahaya bagi penguasa bukanlah musuh eksternal, melainkan mereka yang berada “cukup dekat untuk menusuk tanpa dicurigai.”
Musuh dapat dihadapi dengan tembok dan senjata. Pengkhianatan tidak bisa ditangkal dengan radar.
Kisah ini mengingatkan dunia pada tragedi Thomas Sankara dan Blaise Compaoré—dua sahabat, dua revolusioner, satu ideologi. Ketika kekuasaan tumbuh tanpa benteng nilai, persahabatan berubah menjadi celah. Seperti dicatat Hannah Arendt, kekuasaan yang kehilangan fondasi moral akan selalu mencari sandaran baru: uang, ketakutan, atau kekerasan.
Di sinilah ideologi menemukan maknanya yang paling konkret. Ideologi bukan sekadar teks konstitusi atau pidato kenegaraan. Ia adalah mekanisme internal yang menahan manusia dari menjual dirinya sendiri. Tanpa ideologi yang hidup, negara hanya mengandalkan loyalitas personal—dan loyalitas personal selalu bisa dibeli.
Karena itu, benteng sejati bukanlah tembok, tetapi nilai yang diinternalisasi. Penghormatan pada nilai nilai keTuhanan sebagai sumber hidup bersama, keadilan yang beradab, bukan keadilan transaksional. Rasa kebersamaan dan kesatuan yang melampaui kepentingan pribadi, Gotong royong dalam menyelesaikan konflik, dan orientasi pada keadilan sosial.
Nilai-nilai inilah yang membentuk apa yang oleh Antonio Gramsci disebut hegemoni moral—kekuasaan yang tidak bergantung pada paksaan, tetapi pada kesadaran kolektif. Itulah sebabnya negara-negara seperti Iran, China, dan India—dengan segala perbedaan sistem dan kontradiksinya—memahami satu hal yang sama: ketahanan negara tidak hanya dibangun dari senjata, tetapi dari disiplin ideologis.
Iran bertahan bukan karena langitnya kebal, tetapi karena kesetiaan ideologis lebih dihargai daripada keuntungan pribadi. China menjaga stabilitas bukan hanya dengan aparat, tetapi dengan kesatuan visi elite terhadap negara. India bertahan sebagai republik majemuk karena narasi kebangsaan memberi rasa memiliki—meski sering diuji. Semua itu berangkat dari kesadaran bahwa pengkhianatan tidak dapat dicegah dengan kepercayaan personal, melainkan dengan sistem nilai yang membuat pengkhianatan menjadi aib, bukan peluang.
Kisah-kisah pengkhianatan—baik yang telah terbukti maupun yang masih berupa tuduhan—mengajarkan satu pelajaran universal bahwa negara tidak runtuh karena kurang senjata, tetapi karena kehilangan manusia yang tidak bisa dibeli. Dan manusia seperti itu hanya lahir dari ideologi yang diteladankan oleh elite, ditegakkan tanpa kompromi, dan dirasakan adil oleh rakyat. Tanpa itu, setiap benteng—sekuat apa pun—hanya menunggu satu orang di dalamnya untuk membuka pintu. Selesai.
(Erizeli Jely Bandaro)







Komentar