‘Jebakan’ Mata Uang Baru Suriah

✍🏻Saief Alemdar (WNI tinggal di Suriah)

Peluncuran mata uang baru oleh Pemerintah Suriah dua hari lalu, yang dilakukan langsung oleh Presiden Suriah bersama dengan Gubernur Bank Sentral Suriah (CBS) di Qasr Al Muktamarat yang dihadiri oleh para pejabat tinggi serta undangan dari Perwakilan Asing, bukan sekedar seremonial.

Kebijakan pemerintah tersebut menimbulkan banyak pro dan kontra di berbagai kalangan, khususnya redenominasi atau penghilangan 2 nol dalam mata uang baru, di tengah ekonomi yang belum stabil.

Mengingat Gubernur Bank Sentral Suriah, Dr. Abdulkader Husrieh merupakan seorang pakar ekonomi dan moneter senior Suriah yang sudah melanglang buana di dunia ekonomi di Eropa dan GCC sejak 30 tahun terakhir, mungkin dia punya pertimbangan teoritis tersendiri dari segi ekonomi.

Namun yang pasti, visual mata uang baru mirip mata uang monopoli pertanian, karena mata uang biasanya tidak hanya sekedar alat tukar, tetapi juga simbol ekonomi dan kebudayaan sebuah bangsa. Enam Mata uang baru semuanya menggambarkan hasil pertanian di seluruh provinsi di Suriah, dimana mata uang sebelumnya (terbitan sebelum 2011) sebagian besar menunjukkan berbagai aspek kebudayaan dan sejarah Suriah, mulai dari kebudayaan Asyuria, Babylon, Tadmur, Bizantium hingga Daulah Umawiyyah.

Menariknya juga, mata uang baru sama sekali tidak memuat apapun terkait dengan Islam, dimana banyak pihak menilai pemerintahan Suriah baru identitik dengan Islam Politik. Namun hal itu jelas, bisa ditafsirkan dengan mudah bahwa pemerintah Suriah saat ini masih sensitif dan tidak perlu menunjukkan hal-hal yang bersifat kontroversial di muka Barat dan Timur.

Namun demikian, Satu hal yang sama dan ada dalam semua mata uang baru adalah “bintang delapan”. Bintang Delapan ini menjadi jawaban bagi semua pengkritik di atas, dimana bintang delapan ini dalam oktagram kuno identik dengan makna budaya penting, melambangkan harapan, persatuan, penciptaan, dan kelahiran kembali spiritual dalam banyak tradisi (Babilonia, Islam, Kristen, dll.). Tapi ada netizen yang bilang, “bintang 8 itu adalah lambang arang Argile/Syisya, yang merupakan pemersatu bangsa…” 🙂

Jebakan

Terlepas dari itu semua, dari perspektif lain ada yang menilai bahwa penggantian mata uang ini adalah trap atau perangkap bagi kelompok pro rezim lama yang selama ini membiayai kekacauan. Bagaimana itu? Setidaknya ada 3 skenario akan terjadi.

Pertama: sebelum Rezim Assad tumbang, miliaran Lira Suriah dibawa kabur keluar Suriah (Irak, Lebanon, Turki) atau berada di tangan non-state actor (ISIS dll), bahkan kami dulu sering menukar USD dengan Lira Suriah ke Lebanon, karena kurs yang lebih tinggi. Perbatasan Suriah Lebanon penuh dengan money changer yang menyediakan ratusan juta Lira!

Pemerintah baru memberikan tempo 3 bulan untuk menukar mata uang lama dengan mata uang baru, para fulul atau cebong rezim lama, milisi Iran dll yang memiliki miliaran Lira tidak masuk ke Suriah untuk menukar miliaran Lira mereka, tanpa membuka identitas mereka. Kena!

Kedua: selama tempo 3 bulan, orang-orang yang selama ini menyimpan Lira dalam jumlah banyak, akan diaudit, “dari mana sumber kekayaan, nte?”, disini para “war merchants” akan kena, orang-orang yang korupsi dan memanfaatkan perang untuk memperkaya diri, akan dihisab dan dihisap!

Ketiga: mata uang yang tidak ditukar selama periode 3 bulan, biasanya bandit-bandit korup yang tidak berani menukar miliar Lira mereka, seri tersebut akan dihapus dari daftar di Bank Sentral, dan itu akan memberikan masukan baru bagi kas negara tanpa harus menyebabkan inflasi.

Dengan kebijakan itu, pemerintah akan membuat uang-uang hasil jualan Captagon (narkoba) dan Smuggling/penyelundupan Senjata menjadi kertas tanpa nilai, selain itu, kelompok-kelompok separatis yang masih belum mau tunduk kepada pemerintah pusat, bisa kehilangan alat pembelian.

Biarlah waktu yang menjawab.

(*)

Komentar