Kisah ini bukan dongeng. Kisah keislamannya sudah didokumentasikan dalam wawancara The Guardian (2009), bukunya sendiri, video ceramah di YouTube (seperti di King Fahad Mosque 2015), serta laporan dari berbagai media terpercaya. Ia adalah salah satu bukti nyata bahwa hidayah bisa datang dari tempat paling tak terduga—bahkan di ‘armpit of the world’ (ketiak dunia) seperti Guantanamo.
Islamnya Sipir Penjara Guantanamo Terry Holdbrooks
Musim panas 2003, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Terry Holdbrooks tiba di Kamp Delta, Penjara Guantanamo Bay, Kuba. Ia adalah tentara Amerika Serikat dari kesatuan Military Police, ateis garis keras, pecinta musik rock keras, minuman keras, tato, dan gaya hidup bebas tanpa aturan agama. Seperti kebanyakan rekan-rekannya, ia diyakinkan bahwa para tahanan di sana adalah “yang terburuk di dunia”: sopir Osama bin Laden, koki Al-Qaeda, orang-orang yang siap membunuhnya jika diberi kesempatan.
Tugasnya sederhana: membersihkan, mengumpul sampah, berpatroli di blok sel, mengantar tahanan ke ruang interogasi, dan memastikan tidak ada barang terlarang yang diselundupkan antar sel.
Namun, kenyataan yang ia lihat bertolak belakang dengan apa yang diajarkan. Para tahanan—yang sering disiksa, diisolasi, dibuat tak tidur, dan dipermalukan—tetap menjalankan shalat lima waktu dengan tekun. Mereka membaca Al-Quran, berdzikir, dan tersenyum meski dalam penderitaan.

Sementara itu, para penjaga seperti dirinya justru tampak gelisah, marah, dan tidak bahagia. Terry mulai bertanya dalam hati: “Mengapa mereka yang dikurung bisa tenang dan tersenyum, sementara aku yang bebas justru menderita?”
Ia mulai berbicara dengan para tahanan yang bisa berbahasa Inggris. Salah satunya adalah tahanan nomor 590, seorang warga Maroko bernama Ahmed Errachidi (arRasyidi)—dijuluki “The General” oleh tahanan lain karena karisma dan pengetahuannya.
Ahmed adalah seorang koki yang pernah tinggal lama di Inggris, ditangkap secara salah karena kesalahan identitas, disiksa bertahun-tahun, tapi akhirnya dibebaskan pada 2007 setelah bukti alibi terbukti. Bukan teroris radikal, melainkan Muslim biasa yang mengaku menjalankan Islam toleran dan damai.
Obrolan malam demi malam dengan Ahmed mengubah segalanya. Terry belajar tentang Islam yang sebenarnya: bukan citra kekerasan yang dipromosikan media dan militer AS, melainkan agama yang menekankan akhlak, keadilan, ketabahan, dan kedekatan dengan Tuhan. Ia membaca buku-buku tentang Islam yang ia beli, membandingkannya dengan apa yang ia saksikan. Perlahan, ia melihat ketenangan spiritual yang ia cari selama ini justru ada pada para tahanan itu.
Puncaknya terjadi sekitar akhir 2003 atau awal 2004. Suatu malam, Terry mendatangi sel Ahmed dengan membawa pena dan selembar kertas kecil. Ia meminta Ahmed menuliskan dua kalimat syahadat beserta cara pengucapannya dalam huruf Latin (transliterasi).
Di lantai Camp Delta yang dingin dan gelap, di tengah malam, Terry mengucapkan syahadat dengan suara lantang di hadapan Ahmed: “Ashhadu an la ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadar rasulullah.” Ia memilih nama Islam Mustafa Abdullah—Mustafa artinya “yang terpilih”, Abdullah artinya “hamba Allah”.

Setelah itu, hidupnya berubah drastis. Ia meninggalkan alkohol, musik haram, hubungan terlarang, dan gaya hidup lamanya. Ia mulai shalat, berdzikir, dan bahkan menghafal Al-Quran. Para tahanan memanggilnya Mustafa atau Istafa, sementara banyak rekan-rekannya sesama sipir marah besar: ia dituduh berkhianat, “bersimpati dengan musuh”, bahkan mendapat ancaman kekerasan. Beberapa menjauhinya, yang lain menyebutnya ‘race traitor’ di dunia maya.
Pada 2004, Terry meninggalkan Guantanamo. Tahun 2005, ia keluar dari militer dengan honourable discharge karena alasan kepribadian (generalized personality disorder), dipengaruhi trauma berat dari apa yang ia saksikan. Ia sempat mencoba melupakan kenangan itu dengan minum-minuman keras, tapi akhirnya kembali teguh pada Islam: berhenti minum, merokok, dan narkoba; memperdalam agama; dan menjadi Muslim yang taat.
Kini, sebagai Mustafa Abdullah, ia menulis buku berjudul ‘Traitor (Pengkhianat)?’ (2013) yang menceritakan pengalamannya. Ia aktif berbicara di masjid-masjid Amerika, mengadvokasi penutupan Guantanamo, dan mendukung hak asasi manusia bagi Muslim yang difitnah. Trauma masih menghantuinya—mimpi buruk tentang penyiksaan yang ia lihat—tapi imannya justru semakin kuat.
Semoga Allah menjaga dan mengistiqamahkannya di atas Islam.








Komentar