Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya menolak seruan gencatan senjata dalam perang yang sedang berlangsung melawan Amerika Serikat dan Israel. Teheran, kata dia, hanya akan mempertimbangkan penghentian konflik jika agresi terhadap Iran benar-benar dihentikan secara permanen.
Dalam wawancara dengan program Meet the Press milik NBC News pada Minggu (8/3), Araghchi menilai permintaan gencatan senjata tidak realistis setelah kesepakatan serupa sebelumnya dilanggar.
Menurutnya, Iran masih mengingat gencatan senjata yang dicapai untuk mengakhiri perang 12 hari pada Juni tahun lalu, yang kemudian runtuh setelah kembali terjadi serangan.
“Sekarang Anda meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak bisa berjalan seperti itu. Yang dibutuhkan adalah pengakhiran perang secara permanen,” kata Araghchi.
Ia menegaskan bahwa selama jaminan tersebut belum ada, Iran akan terus melanjutkan perlawanan demi keamanan negara dan rakyatnya.
“Jika itu belum tercapai, maka kami harus terus bertempur demi rakyat dan keamanan kami,” ujarnya.
Pernyataan Araghchi disampaikan ketika menjawab pertanyaan moderator NBC, Kristin Welker, mengenai kemungkinan Iran mengakhiri perang dan kembali ke meja perundingan dengan Washington.
Komentar tersebut juga muncul dua hari setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa satu-satunya cara mengakhiri perang adalah jika Iran menyatakan “menyerah tanpa syarat”.
Menanggapi hal itu, Araghchi mengatakan tuntutan serupa pernah disampaikan Trump dalam konflik sebelumnya dengan Iran, dan menurutnya syarat seperti itu tidak akan pernah berhasil.
“Iran tidak akan pernah menyerah. Kami akan terus bertempur selama diperlukan,” tegasnya.
Saat ditanya mengenai dugaan bantuan intelijen dari Rusia kepada Iran untuk melacak aset militer AS di kawasan, Araghchi tidak memberikan konfirmasi langsung. Namun ia mengakui adanya kerja sama antara kedua negara.
“Mereka membantu kami dalam berbagai aspek. Saya tidak memiliki rincian khusus. Kerja sama Iran dan Rusia bukan sesuatu yang baru dan bukan rahasia,” ujarnya.
Sementara itu, militer Iran menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan balasan terhadap target AS dan Israel. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut operasi militer bertajuk “True Promise 4” terus berlanjut dengan skala serangan yang akan diperluas dalam beberapa hari ke depan.
Konflik terbaru pecah setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu terhadap Iran. Teheran menuduh serangan tersebut sebagai agresi ilegal yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior.
Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target militer. Sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Asia Barat serta fasilitas militer Israel dilaporkan menjadi sasaran serangan tersebut.
Media AS menyebut serangan balasan Iran menyebabkan kerusakan bernilai miliaran dolar pada sejumlah instalasi militer.






