Iran Siagakan Militer Jelang Kedatangan Armada AS, Ancang Perang “Habis-habisan”

Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih menyusul pengerahan besar-besaran armada militer Amerika Serikat ke kawasan. Iran merespons dengan menyatakan siaga penuh dan siap menghadapi “perang habis-habisan”, menegaskan bahwa serangan sekecil apa pun akan dibalas dengan kekuatan maksimal.

Pemicu eskalasi terbaru ini adalah pergerakan Carrier Strike Group yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, beserta kapal perusak pendamping, menuju Samudra Hindia dan diperkirakan segera merapat ke wilayah Timur Tengah. Pengerahan ini menambah ribuan personel tempur AS di kawasan yang sudah rawan konflik.

Pejabat senior Iran yang dikutip media internasional menyatakan posisi tegas negaranya: “Kali ini kita akan menganggap setiap serangan, terbatas, tak terbatas, terarah, kinetik, apa pun sebutannya, sebagai perang habis-habisan melawan kita, dan kita akan merespons dengan cara sekeras mungkin.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Teheran tidak akan membedakan antara serangan terbatas atau skala penuh; semua akan dianggap sebagai deklarasi perang total.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan harapan agar kekuatan yang dikerahkan tersebut tidak perlu digunakan. Namun, ia tetap melontarkan peringatan keras terkait program nuklir Iran dan penanganan demonstrasi di dalam negeri Iran. Sikap ambivalen ini—di satu sisi menunjukkan kekuatan, di sisi lain mengaku tidak menginginkan konfrontasi—justru memperkeruh suasana.

Iran, yang sejak lama dikepung oleh sanksi ekonomi dan tekanan militer AS, menyatakan tidak memiliki pilihan selain memobilisasi seluruh kemampuan pertahanannya. Militer Iran dilaporkan telah menyiapkan skenario terburuk untuk menjaga kedaulatan wilayah.

Situasi ini merupakan babak baru dari ketegangan yang telah berlangsung lama, terutama sejak AS keluar dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018. Kedatangan armada AS bukan hanya isyarat militer, tetapi juga pesan politik yang berisiko memicu respons berantai dan mengobarkan konfrontasi terbuka dengan konsekuensi yang sulit diprediksi bagi stabilitas regional.

Komentar