Iran Pertimbangkan Izinkan Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz Jika Transaksi Pakai Yuan

Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kapal tanker minyak melintas di Strait of Hormuz dengan syarat transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang China, Chinese yuan.

Seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada CNN bahwa kebijakan tersebut masih dalam tahap pertimbangan. Jika diterapkan, hanya sejumlah terbatas kapal tanker yang akan diizinkan melewati jalur laut strategis tersebut.

Langkah itu disebut sebagai bagian dari rencana Teheran untuk mengendalikan arus kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia.

Selama ini, perdagangan minyak global umumnya menggunakan United States dollar. Namun, ada pengecualian untuk minyak Rusia yang dikenai sanksi, yang diperdagangkan menggunakan rubel atau yuan. China sendiri selama bertahun-tahun berupaya memperluas penggunaan yuan dalam transaksi minyak internasional, meski dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama dunia.

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz juga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, setelah sebelumnya melonjak akibat konflik Russian invasion of Ukraine.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak melintas melalui perairan ini, termasuk hampir 20 persen perdagangan gas alam cair global.

Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations memperingatkan bahwa pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap operasi kemanusiaan di kawasan.

Iran sendiri diketahui secara efektif menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak 1 Maret 2026. Langkah itu diambil setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, dan memicu eskalasi konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *