IRAN NEGARA GAGAL?

“Iran Negara Gagal”

Banyak yang menyebut Iran adalah “negara gagal” yang sedang menghitung hari menuju kehancuran. Namun, data justru bercerita tentang sebuah anomali pembangunan yang sulit dinalar oleh logika sanksi ekonomi.

Jika kita merujuk pada Human Development Index (HDI) dari UNDP, Iran mencatatkan salah satu pertumbuhan indeks pembangunan manusia tercepat di dunia. Dalam beberapa dekade, mereka melompat dari kategori “rendah” ke “tinggi”, melampaui rata-rata pertumbuhan global.

Keberhasilan ini dimulai dari sektor pendidikan. Iran telah menghapus buta huruf dengan tingkat literasi pemuda yang kini mendekati 100 persen. Mereka tidak hanya belajar membaca, tapi sedang mendefinisikan ulang kedaulatan intelektual.

Fenomena yang paling menarik—sekaligus mungkin yang paling menjengkelkan bagi para aktivis perempuan di luar negeri—terjadi di menara gading. Di saat dunia luar sibuk mengampanyekan “pembebasan” perempuan Iran, kenyataan di lapangan justru berbicara sebaliknya.

Lebih dari 60 persen kursi di universitas-universitas terbaik Iran kini diduduki oleh perempuan. Mereka bukan sekadar kuliah di jurusan sastra atau sosial, melainkan mendominasi jurusan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Hal ini tentu menjadi tamparan bagi narasi Barat. Di saat banyak negara maju masih tertatih-tatih mengejar kuota gender di laboratorium teknik, perempuan Iran sudah lama menjadi tulang punggung riset nasional, mulai dari teknik nuklir hingga bioteknologi, tanpa perlu riuh demonstrasi atau kuota paksaan.

Keberhasilan pendidikan ini berdampak langsung pada sektor kesehatan. Angka harapan hidup warga Iran melonjak drastis, dari yang semula hanya sekitar 50 tahun pada dekade 70-an, kini telah menembus angka 77 tahun.

Sistem kesehatan masyarakatnya bahkan mendapat pujian dari WHO. Hebatnya lagi, di bawah tekanan boikot medis yang mencekik, Iran justru mampu memproduksi sendiri 97 persen kebutuhan obat-obatan nasionalnya secara mandiri.

Secara global, Iran pun bukan lagi pemain pinggiran. Dalam bidang nanoteknologi, Iran secara konsisten nangkring di peringkat 5 besar dunia dalam hal publikasi ilmiah, bersaing ketat dengan Amerika dan Tiongkok.

Kemandirian teknologi ini meluas hingga ke luar angkasa. Iran menjadi sedikit dari negara di dunia yang mampu merancang, membangun, dan meluncurkan satelitnya sendiri ke orbit menggunakan roket buatan domestik.

Segala capaian ini diraih saat pintu perdagangan dunia dikunci rapat bagi mereka. Mereka dipaksa jatuh, namun justru membangun tangga sendiri menuju puncak sains dan kemandirian industri yang mencengangkan.

Melihat semua data ini, Iran memang benar-benar ‘negara gagal’—yaitu negara yang gagal total memenuhi harapan musuh-musuhnya untuk melihat mereka menyerah dan kembali ke zaman batu.

(Iran Insight)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *