“Ini adalah perburuan aktivis terbesar sejak Reformasi”

Komisi Pencari Fakta (KPF) yang terdiri dari koalisi masyarakat sipil menyebutkan rangkaian penangkapan aktivis buntut demonstrasi Agustus 2025 lalu sebagai penangkapan terbesar Pasca-Reformasi 1998.

Hal tersebut disampaikan dalam agenda peluncuran laporan investigasi mendalam bertajuk “Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi” di Kantor ICW, Rabu (18/2/2026).

“Ini adalah perburuan aktivis terbesar sejak Reformasi,” ujar Dimas Bagus Arya, koordinator KontraS.

Berdasarkan catatan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi, hingga 14 Februari 2026, terdapat 703 tahanan politik yang harus menjalani proses hukum, 506 orang di antaranya telah diputus bersalah.

“Negara harus berhenti berbohong. Kita tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Operasi pembungkaman ini adalah bukti bahwa ruang sipil kita sedang menyempit menuju titik nadir,” tegas M. Isnur, Ketua YLBHI.

Laporan KPF disusun selama 5 bulan dengan metodologi ketat, mencakup pembedahan 115 BAP kepolisian, wawancara mendalam terhadap 63 informan kunci, serta penggunaan teknik OSINT.

Penelusuran digital forensik bahkan menjangkau jejak di 4 negara untuk membuktikan penggunaan teknologi surveilans terhadap warga negara.

Laporan tersebut mengungkap fakta kelam mengenai gugurnya 13 warga sipil selama krisis Agustus 2025. Salah satunya kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang dilindas kendaraan taktis Brimob.

Isnur juga membeberkan temuan mengenai penangkapan massal terhadap 2.573 anak di bawah umur di 15 kota, banyak dari pelajar tersebut mengalami penyiksaan fisik brutal.

KPF menemukan indikasi pembiaran terhadap kelompok penjarah rumah pejabat yang bergerak sistematis menggunakan drone dan aba-aba petasan, sementara polisi justru bergerak agresif melakukan malicious prosecution terhadap para aktivis.

Salah satu temuan krusial lainnya adalah identifikasi seorang pria berpakaian hitam di Kediri pada 30 Agustus 2025 yang terekam mengambil alih komando massa saat aksi damai akan berakhir.

KPF juga menemukan pria yang sama hadir memantau persidangan aktivis Delpedro Marhaen dkk. Meski identitasnya telah terdeteksi, kepolisian tidak pernah memasukkan nama tersebut ke dalam daftar penyelidikan.

(Sumber: tirto.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Siapa suruh pilih raja penculik aktifis, kliatannya sj nggemesin suka joged2 gemoy, tp hati srigala … setelah ini nunggu giliran para profesor yg mengkritik MBG …