✍🏻AZWAR SIREGAR
Saya salah satu Relawan dan Pendukung Pak Prabowo. Tapi baru sejak 2014. Ternyata cukup lama juga…
Salah satu alasan saya mendukung beliau, karena saya berharap, beliau sama Demokratisnya dengan Pak SBY.
Jujur saja, jaman Pak SBY kebebasan berekspresi dan berdemokrasi bangsa kita sangat luar biasa. Hancur dan rusak total di jaman Pak Jokowi.
Jaman Pak SBY, sekalipun beliau seorang militer, oposisi bahkan bebas mengarak seekor Kerbau yang dipilox dengan tulisan SiBuYa, menyindir nama Pak SBY.
Demonstran bebas membakar foto beliau dan foto Wapres. Ngga ada masalah.
Seingat saya, ada beberapa kali, bisa dihitung dengan jari, masyarakat yang sempat dipolisikan karena menghina Pak SBY. Dari pendukung Pak SBY yang mungkin saja terlalu fanatik.
Tapi kalau dibandingkan dengan jaman Pak Jokowi, bagaikan Bumi dan Langit. Jaman Pak Jokowi bolak-balik rakyat ditangkap karena dianggap berlawanan dan berseberangan dengan Pemerintah.
Makanya di jaman Pak Jokowi, salah satu yang paling saya rindukan adalah hilangnya ketakutan untuk mengkritik Pemerintah.
Bagi saya pribadi, kritikan, bahkan caci-maki dan hujatan rakyat kepada Pemerintah adalah hal biasa.
Semuanya akan terbungkam dengan sendirinya, kalau Pemerintah sudah berhasil membuat Negara makmur dan rakyat sejahtera.
Rakyat mencaci-maki bisa saja sebagai pelampiasan rasa dongkol. Ekonomi terasa sulit sementara di sisi lain bolak-balik para Pejabat ditangkap karena Korupsi.
Rakyat menghujat mungkin saja karena kecewa. Harapan jauh dari angan-angan. Janji jauh dari kenyataan. Panggang jauh dari arang.
Tapi sekali lagi, semuanya akan terdiam, bahkan balik memuji, kalau Pemerintah mampu mewujudkan janji-janjinya.
Di jaman Pak SBY dan Pak Jokowi saya bolak-balik menulis, salah satu tanda kebebasan demokrasi itu rakyat bebas mengkritik, bahkan mencaci-maki, bahkan menungging dan mengarahkan pantatnya ke arah Istana.
Kalau yang di Istana tersinggung, tidak siap dikritik, tidak ikhlas dihujat, tidak rela dicaci-maki, ya letakkan jabatan.
Sebagai Pendukung dan Relawan Pak Prabowo, ujian terbesar saya adalah apakah saya masih konsisten dengan “Perjuangan Kebebasan Berekspresi dan Berdemokrasi”.
Jawabannya tegas : IYA!!!
Jadi saya bersama Pak De Indro. Menolak segala macam bentuk kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi, bahkan caci-maki kepada Pemerintah.
Cuma masalahnya sekarang, setahu saya yang melaporkan Panji itu kan bukan dari Pemerintah?
Tapi dari Masyarakat Toraja dan Warga NU yang menganggap Panji menghina Adat Toraja dan memfitnah NU.
Tolong jangan dibelokkan dong, seakan-akan Pemerintah yang bersalah. Setahu saya, tidak ada satupun reaksi bahkan komentar dari Pemerintah bahkan Gerindra yang mengecam tuduhan Penculik kepada Pak Prabowo oleh Panji.
Itu kan lagu lama dari kaset rusak. Kita sudah bosan mendengarnya. Satu-satunya yang berbeda, sekarang yang dituduh Penculik dipercaya rakyat untuk memimpin Negeri ini.
Memang ada sih reaksi berlebihan di Medsos. Balik mencaci-maki Panji. Bahkan membully keluarga khususnya anaknya Panji.
Sekalipun saya menyayangkan, tapi itukan bagian dari resiko kebebasan berpendapat tadi.
Ya mau bagaimana lagi?
Saya saja yang bukan siapa-siapa, kadang dihujat dan dicaci-maki. Bahkan difitnah. Apalagi sosok Panji…
Eh, bai de wei, Pak De Indro berani juga ya, menyebut para Pelapor Mas Panji itu “kemunduran cara berpikir”.
Setahu saya yang mempolisikan Panji kan perwakilan Masyarakat Toraja dan Warga NU. Jadi yang dituduh Pak De mundur cara berpikirnya Masyarakat Toraja dan Warga NU dong?
Ah, perlu di somasi juga Pak De ini…. Kompor 😁😁😁







Komentar