INDONESIA NEGARA PALING BAHAGIA?
Katanya, Indonesia adalah negara paling bahagia di dunia. Klaim ini datang dari Presiden Prabowo, berdasarkan sebuah survei global bernama Global Flourishing Study. Mendengarnya, kita sebagai warga +62 tentu refleks tersenyum. Bukan karena yakin, tapi karena bingung: bahagia yang mana dulu nih?
Soalnya, di hari yang sama, kondisi ril rakyat masih memprihatinkan. Tapi menurut survei, kebahagiaan rupanya bukan soal dompet tebal atau gaji dua digit. Ada makna hidup, relasi sosial, rasa syukur, dan kemampuan tertawa meski hidup pas-pasan. Di bagian ini, orang Indonesia memang juaranya.
Kita bisa ketawa di warung kopi meski saldo tinggal receh. Bisa bikin lelucon dari musibah. Bisa bilang “nggak apa-apa” padahal jelas ada apa-apa. Mungkin itu yang bikin peneliti luar negeri geleng-geleng kepala: kok bisa orang-orang yang “belum sejahtera” ini mengaku bahagia?
Masalahnya, bahagia versi survei sering tak sama dengan bahagia versi rakyat. Yang satu diukur pakai indeks, yang lain diukur pakai kemampuan bertahan hidup sampai tanggal gajian. Jadi ketika Indonesia dinobatkan paling bahagia, rasanya seperti dapat piala “paling kuat menertawakan nasib”.
Dan mungkin di situlah letak kebenarannya. Kita bahagia bukan karena hidup mudah, tapi karena kalau tidak begitu, kita bisa gila.
Sebagian besar survei flourishing bertumpu pada self-reported well-being: responden ditanya apakah mereka merasa puas, bersyukur, atau bahagia dengan hidupnya.
Sebagian besar orang Indonesia akan menjawab “Bahagia dan bersyukur”.
Orang Indonesia memang begitu. Mereka malu mengatakan dia tidak happy. Bahkan dalam kondisi terburuk pun mereka masih berkata, “untung masih bisa bernapas dan hidup”. Artinya, persepsi tidak selalu sejalan dengan kondisi objektif.
Dalam masyarakat dengan literasi rendah, ekspektasi hidup yang ditekan, dan budaya adaptif terhadap kesulitan, jawaban “bahagia” sering kali mencerminkan mekanisme bertahan (coping mechanism), bukan kesejahteraan nyata.
Bahagia adalah ketika negara bilang kamu bahagia, lalu kamu mengangguk karena sudah terlalu capek untuk membantah. Udah, iyain aja.
Atau jangan-jangan, rakyat Indonesia bahagia karena sering dihibur para pejabatnya yang belakangan ini makin jenaka?
(Setiya Jogja)







Komentar