Di Malaysia Imam Tarawih dibayar RM 1000 atau sekitar Rp 4 juta satu malam.
Hal ini ada yang protes (seperti screenshot di atas).
Lalu ada yang menanggapi, Mohd Fadli Salleh di akun fbnya menangapi ss diatas:
“Dik, imam pun ada anak bini, ada bil api air perlu dibayar, ada sewa rumah perlu dilangsaikan.
Kenapa nak dengki sangat dengan pendapatan imam bulan Ramadan ni? Sebenarnya RM1k sehari pun masih rendah berbanding apa yang mereka buat.
Artis dibayar berpuluh ribu untuk beberapa jam persembahan yang melalaikan, imam yang pimpin umat Islam dalam solat disuruh bayar murah? Aneh!
Suruh ikhlas dan kejar pahala semata-mata. Amboi, sedapnya mulut berkata-kata.
Aku setuju sangat normalisasikan bayaran mahal pada imam ni. Lagi tinggi, lagi baik.
Begitulah.”
***
HUKUM IMAM SHALAT DIBAYAR
Hukum imam shalat dibayar (mendapat honor/gaji) adalah boleh (mubah) menurut mayoritas ulama (4 mazhab), selama berasal dari kas masjid (baitul maal)/pemerintah untuk kemaslahatan, bukan memungut langsung dari makmum setelah shalat.
Berikut rincian hukum imam shalat dibayar:
- Dibolehkan: Imam mendapat gaji dari kas masjid (DKM), yayasan, atau pemerintah untuk mengurus masjid dan mengimami. Ini dianggap sebagai biaya operasional agar imam fokus menjaga shalat berjamaah.
- Dilarang/Makruh: Imam meminta atau menerima bayaran langsung dari makmum sesaat setelah memimpin shalat.
Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:
فلا يجوز للشخص أن يأخذ أجرة على إمامته للناس في الصلاة، أو قراءته للقرآن، إلا إذا أعطي من بيت مال المسلمين، أو كان فقيراً محتاجاً وأخذ لذلك، وإن استعف فهو خيرٌ له. هذا ما ذهب إليه الأئمة الأربعة: أبو حنيفة ومالك والشافعي وأحمد
Tidak boleh bagi seseorang memgambil upah atas keimamannya kepada orang-orang dalam shalat, atau membaca Al Qur’an. Kecuali diambil dari Baitul maal kaum muslimin, atau dia orang yang membutuhkan, atau dia fakir, dia boleh ambil itu, namun jika dia ‘iffah itu lebih baik baginya. Inilah pendapat imam empat madzhab: Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy, dan Ahmad. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah No. 6575).
Syaikh Utsaimin mengatakan:
وأما أخذ الرَّزق من بيت المال على الإمامة فإن هذا لا بأس به ، لأن بيت المال يُصرف في مصالح المسلمين ، ومن مصالح المسلمين إمامتهم في مساجدهم
Adapun mengambil pencaharian dari Baitul Maal kaum muslimin atas imam maka itu tidak apa-apa, karena Baitul Maal memang dimanfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin, dan di antara maslahat kaum muslimin adalah adanya imam di masjid-masjid mereka … (As Su’aal ‘alal Haatif, Kaset 173).
Kesimpulan:
– TIDAK BOLEH, jika upah itu diberikan oleh para makmum setelah shalatnya.
– BOLEH, jika upah itu dari harta baitul maal karena baitul maal memang untuk kepentingan kaum muslimin termasuk para imam di masjid-masjid mereka. Ini pendapat 4 madzhab. Baitul Maal di masa kini bisa direpresentasikan oleh uang kas masjid yang merupakan dana untuk maslahat masjid (operasional, perawatan, gaji marbot dan imam, dana kegiatan).







Ya ada pro -kontra kebijakan biasalah…
Kalo niat ingin apresiasi imam tdk ada salahnya
Nanti si imampun makin meningkatkan ilmunya, hafalannya byk, bacaannya jd lebih bagus
Itu betul. Imam juga butuh makan, minum, ngontrak rumah, nafkahi anak-istri, dll. Apalagi imam tetap yg mana mereka 5 kali sehari hrs standby di masjid utk mengimami sholat fardlu dan kadang memberi materi ceramah jg. Alhamdulillah imam tetap di masjid komplek kami digaji full, meski msh umr, plus rumah kontrakan disediakan pula.