𝐇𝐨𝐚𝐱 𝐇𝐀𝐀𝐑𝐏 & 𝐆𝐞𝐦𝐩𝐚 𝐀𝐭𝐣𝐞𝐡
✍🏻Arsyad Syahrial
Entah kenapa di timeline saya beredar narasi klaim bahwa HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program) adalah penyebab dari gempa-gempa di Atjeh, salah satunya adalah seperti screenshot (di atas) yang sebenarnya bagi orang yang cerdas, ini sangat mudah membantahnya.
HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program/Program Penelitian Aurora Aktif Frekuensi Tinggi) adalah fasilitas penelitian ilmiah di Alaska USA yang dibangun pada 1993 menggunakan pemancar radio berdaya tinggi untuk mempelajari ionosfer (lapisan teratas atmosfer Bumi) dengan tujuan meningkatkan teknologi komunikasi radio dan pengawasan, sering dikaitkan dengan teori konspirasi namun merupakan proyek ilmiah yang sah untuk memahami fisika atmosfer, bukan sebagai senjata pengontrol cuaca atau penyebab bencana. Program ini awalnya merupakan proyek bersama antara Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS sebelum operasionalnya dialihkan ke University of Alaska Fairbanks (UAF) pada Agustus 2015.
Mari kita bahas…
❌ Skala energi yang mustahil
Salah hal termudah yang meruntuhkan teori ini adalah dengan membandingkan energi yang dilepaskan gempa dengan kemampuan pembangkitan energi listrik oleh manusia.
Contohnya adalah energi gempa Atjeh di 26 Desember 2004 yang lamanya sekitar 500an detik diperkirakan melepaskan energi sekitar 4,0 × 10²² Joule.
Sebagai perbandingan, total kapasitas listrik yang dihasilkan oleh seluruh power plant di USA “hanya” sekitar 1,3tera Watt (1,3 × 10¹² Watt). Jika kita menghitung total energi listrik yang dihasilkan seluruh power plant di USA dalam periode satu tahun penuh, maka itu “hanya” sekitar 1,44 × 10¹⁶ Joule. Artinya, energi gempa Atjeh 2004 adalah 2,7juta kali lipat lebih besar daripada seluruh energi listrik yang dihasilkan pembangkit listrik di USA dalam setahun.
Jadi mengklaim bahwa HAARP (yang hanya sebuah fasilitas riset kecil di Alaska) bisa memicu gempa Atjeh itu ibarat mengatakan sebuah baterai jam tangan bisa digunakan untuk menghidupkan seluruh listrik di JaBoDeTaBek selama berabad-abad. Secara hukum dasar fisika, yaitu ḥukum kekekalan energi masa, ini adalah hil yang mustahal.
❌ Jakasembung bawa golok
HAARP itu dirancang untuk meneliti Ionosfer (lapisan atmosfer atas di ketinggian antara 60kM hingga 1.000kM). Sementara itu, gempa tektonik terjadi di Litosfer (kerak bumi) pada kedalaman puluhan hingga ratusan kiloMeter di bawah tanah.
Gelombang radio frekuensi tinggi (HF) yang digunakan HAARP itu memang bersifat memantul atau diserap oleh lapisan udara dan permukaan air/tanah (fenomena Skin Effect). Akan tetapi gelombang HF tidak bisa menembus batuan padat hingga kedalaman puluhan kiloMeter untuk “menggetarkan” lempeng. Gempa tektonik itu adalah pelepasan energi mendadak oleh lempeng yang tertekan selama puluhan / ratusan tahun. Ya kira-kira ibarat pegas yang melenting lah.
Jadi mengklaim HAARP membuat gempa itu ibarat meniup permukaan air kolam renang dengan sedotan dan berharap bisa menciptakan tsunami di dasar kolam. Secara ḥukum dasar fisika, lagi-lagi ini adalah hil yang mustahal.
❌ Cahaya biru
Postingan hoax seringkali menggunakan foto fenomena “cahaya biru” sebagai bukti penggunaan senjata frekuensi tinggi. Padahal, di dalam ìlmu geologi memang ada fenomena yang dinamakan “Earthquake Lights” (EQL).
Jadi saat lempeng bumi mendapat tekanan luar biasa besar lalu patah, maka batuan (seperti basal dan gabro) melepaskan muatan listrik yang bergerak cepat ke permukaan dan mengionisasi udara sehingga menciptakan cahaya plasma.
Jadi faktanya cahaya itu adalah akibat dari pelepasan energi oleh tegangan tektonik, bukan penyebab dari gempa tektonik. Menganggap cahaya itu sebagai bukti keberadaan senjata pembuat gempa ibarat melihat kilat saat hujan, lalu mendakwa kalau kilat itulah yang menciptakan air hujan.
❌ Cocokologi waktu
Kecepatan gelombang yang tak masuk àqal.
Postingan tersebut menyebut ada jeda 14 menit antara cahaya dan gempa sebagai “waktu propagasi”. Ini jelas keliru besar, sebab yang namanya gelombang elektromagnetik itu merambat secepat cahaya, yaitu: 300.000kiloMeter /detik.
Kalau kita hitung jarak dari atmosfer ke pusat gempa itu hanya puluhan atau ratusan kiloMeter, maka jika memang ada energi yang ditembakkan, ia akan sampai dalam waktu kurang dari 0,001 detik. Angka “14 menit” justru malah terlalu lama. Jadi jelas itu hanyalah angka yang dicocokkan-cocokkan untuk membuat narasi tersebut terlihat seolah-olah memiliki dasar ìlmiyyah dan hitungan scientific.
Aktivitas blasting (peledakan) tambang memang bisa memicu getaran kecil (biasanya di bawah Magnitudo 2.0), namun itu tidak punya cukup energi untuk menggerakkan lempeng tektonik yang luasnya ratusan kiloMeter. Atjeh itu berada di jalur Sesar Semangko dan zona subduksi aktif. Gempa di sana adalah murni fenomena geologis akibat pergerakan lempeng yang menyimpan energi selama bertahun-tahun (tahunan hingga ratusan tahun).
Teori konspirasi HAARP hanya menggunakan istilah-istilah ìlmiyyah yang “keren” untuk menutupi ketiadaan logika dasar fisika di dalamnya, maka jangan biarkan pseudosains macam begini merusak àqal sehat…!
Satu hal yang mengherankan, akun-akun penyebar hoax semisal ini seperti bebas-bebas saja memposting hal-hal yang merusak àqal sehat, sementara yang menda`wahkan kebenaran, memelihara àqal sehat, malah gampang sekali terkena hukuman dari Pesbuk…









Komentar