Hezbollah Hujani Target Israel dengan Serangan Roket Balasan Besar-besaran

Kelompok perlawanan Lebanon, Hezbollah, mengumumkan telah melancarkan serangan roket besar-besaran terhadap sejumlah target Israel sebagai balasan atas pelanggaran Tel Aviv terhadap kedaulatan Lebanon.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu malam, Hezbollah menyebut operasi tersebut sebagai Operasi Eaten Straw, yang diarahkan ke wilayah Palestina yang diduduki.

Menurut kelompok itu, serangan diluncurkan sebagai respons atas berbagai pelanggaran Israel yang berdampak pada puluhan kota dan desa di Lebanon, termasuk kawasan pinggiran selatan ibu kota Beirut.

Hezbollah menyatakan para pejuangnya menembakkan roket ke sejumlah permukiman Israel di dekat perbatasan Lebanon yang sebelumnya telah diperingatkan untuk dievakuasi.

Peringatan tersebut, menurut mereka, ditujukan kepada permukiman yang berada dalam radius lima kilometer dari perbatasan.

Dua wilayah yang disebut sebagai target serangan adalah Kiryat Shmona dan Nahariya.

Selain itu, Hezbollah juga melaporkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer Israel di wilayah utara Palestina yang diduduki.

“Para pejuang Perlawanan Islam menargetkan pangkalan Misgav dan perusahaan industri militer Yodifat di timur laut kota Haifa yang diduduki dengan puluhan roket,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Serangan roket ini disebut sebagai salvo terbesar yang diluncurkan Hezbollah sejak dimulainya ofensif terbaru Israel.

Nama operasi yang digunakan Hezbollah diambil dari frasa dalam Al-Qur’an yang merujuk pada jerami atau batang tanaman yang telah dimakan dan tercabik-cabik hingga hanya menyisakan serpihan. Dalam konteks ayat tersebut, gambaran itu melukiskan kekuatan penyerang yang hancur berkeping-keping.

Awal bulan ini, Sekretaris Jenderal Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, juga menyinggung operasi militer sebelumnya yang dilakukan kelompoknya terhadap wilayah yang diduduki Israel.

Ia mengatakan langkah tersebut diambil setelah lebih dari satu tahun menahan diri, sembari mengingatkan bahwa Hezbollah berulang kali memperingatkan adanya batas kesabaran mereka menghadapi agresi Israel.

Saat itu, Qassem menyatakan bahwa selama “satu tahun tiga bulan, musuh Israel dan Amerika terus melakukan agresi.” Ia menambahkan bahwa Lebanon tetap mematuhi perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 27 November 2024 bersama pemerintah Lebanon, namun Israel disebut tidak menjalankan satu pun klausul dalam kesepakatan tersebut.

Perjanjian tersebut sebelumnya disepakati untuk menghentikan eskalasi militer Israel terhadap Lebanon yang telah menewaskan ribuan orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *