โ๐ปFitriyan Zamzami
Adalah kisah yang masyhur. Pada waktu Idul Fitri begini ada kemeriahan di Masjid Nabi di Madinah, 1400 tahun lalu. Orang-orang Abisinia berdansa-dansi memainkan mereka punya tombak dan lembing. Aisyah, istri Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู kepingin nonton. Nabi mengiyakan. Ia duduk sementara Aisyah dengan manjanya dari belakang menaruh wajah di bahu suaminya, pipi mereka bersentuhan, menyaksikan aksi orang-orang dari Afrika.
Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู jadi sandaran Aisyah sampai ia puas menyaksikan pertunjukan. โBiarlah mereka bermain, supaya orang-orang tahu bahwa kita orang Islam juga bisa bersenang-senang,โ kata Rasulullah ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู saat ada yang menanyakan pantas tidaknya gelaran di depan masjid itu.
Sejak hari itu di Madinah, Idul Fitri jadi hari yang semarak betul. Dari ujung bumi sampai ujung bumi, riuh dibuat, warna-warni, baju-baju bagus dikenakan, anak-anak dapat hadiah.
Semalam, saat menyambangi Bundaran HI yang dibuat Pemprov DKI jadi arena beduk massal dan semarak betul, saya lihat satu dua orang-orang bule yang tingginya macam pohon kelapa itu ikut takjub.
Paling tidak untuk sehari ini, orang Islam di mana-mana tempat mencoba melupakan mereka punya derita. Di Gaza seperti di foto di atas, di Teheran, di Khartoum, di Kashmir, di Xinjiang, di Rohingya, semua semarak dan bahagia di Hari Raya ini.
Karena pada akhirnya semua malapetaka di sekeliling mereka ini, semua tiran gila perang, segala kesulitan ekonomi, segala masalah rumah tangga, penyakit yang ndak sembuh-sembuh, adalah yang sebenarnya sementara saja.
Kemenangan Hari Raya ini, setelah sebulan berpuasa, berdiri shalat malam tarawih, menyisihkan sebagian harta untuk shadaqah, itulah yang abadi dan dibawa matiโฆ






