Harga gas alam Eropa melonjak hingga 50% pada hari Senin, 2 Maret 2026, menyusul penghentian total produksi liquefied natural gas (LNG) oleh QatarEnergy. Penangguhan operasional ini terjadi setelah serangkaian serangan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan infrastruktur energi utama di Qatar di tengah eskalasi konflik regional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

QatarEnergy mengatakan pada hari Senin (2/3/2026) bahwa mereka telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah serangan Iran menargetkan fasilitas di dua pusat pengolahan gas utamanya, sebuah langkah yang mengguncang pasar energi global.
Perusahaan milik negara itu mengatakan operasi dihentikan di lokasi Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City menyusul apa yang mereka sebut sebagai serangan militer terhadap infrastruktur operasinya.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai situasi pasar energi saat ini:
- Lonjakan Harga Benchmark: Kontrak berjangka Dutch TTF, yang menjadi acuan harga gas Eropa, melonjak sekitar 45-50% hingga mencapai kisaran €46 – €47,65 per megawatt-jam (MWh). Ini merupakan guncangan pasar satu hari terbesar sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
- Penyebab Penghentian Produksi: QatarEnergy mengonfirmasi penghentian produksi di fasilitas terintegrasi Ras Laffan—situs ekspor LNG terbesar di dunia—dan Mesaieed Industrial City. Serangan drone tersebut dilaporkan mengenai tangki air di pembangkit listrik dan fasilitas energi lainnya, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
- Gangguan Rute Pengiriman: Ketegangan militer juga menyebabkan penghentian hampir total lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan LNG global. Saat ini, tidak ada kapal pengangkut LNG yang melintasi selat tersebut, dengan puluhan kapal menunggu di luar area konflik.
- Dampak pada Ketahanan Energi: Gangguan ini sangat kritikal bagi Uni Eropa yang sangat bergantung pada LNG untuk menggantikan gas pipa Rusia. Cadangan gas EU saat ini berada di bawah 31%, lebih rendah dibandingkan level 40% pada periode yang sama tahun lalu.
- Proyeksi Pasar: Analis dari Goldman Sachs dan ING memperingatkan bahwa jika gangguan produksi dan blokade Selat Hormuz berlanjut selama satu bulan, harga gas Eropa bisa melonjak dua kali lipat atau mencapai rentang €80 – €100/MWh.
Sumber:







gegara si Trumpet sama si Setan yahu
berharap minyak jd $200/barel….trus nanti pak ndas suruh babat hutan buat tanam sawit….emang rakyat makan sawit