Gibran Gerah
by : Budi Saks
Pekan lalu Gibran dengan tegas mengancam akan kembali menguatkan peran lembaga KPK setelah partai partai koalisi 02 menyuarakan mendukung Prabowo dua periode.
Gibran (dan jokowi tentu saja) tentu panas karena para ketua partai itu mendeklarasikan Prabowo dua periode bukan Prabowo-Gibran dua periode.
Artinya mereka masing-masing ingin dan berkesempatan menjadi wakil presiden walau sebetulnya ingin jadi presiden juga namun mereka cukup tahu diri melihat kekuatan dukungan Prabowo yang masih solid walau banyak juga pedukungnya yang mulai mempertanyakan kebijakannnya.
Anak sulung Jokowi itu pasti sudah pegang ‘kartu as’ masing-masing ketua parpol koalisi 02 sehingga berani menggertak mereka-mereka yang tak menyebutkan dukungan buat dia dan keluarganya.
Tapi ada dua hal yang dia lupakan bahwa: pertama para ketua parpol itupun juga punya kartu matinya si bocah jamet ini berikut ipar dan adiknya dan tentu bapaknya, dan kedua dia lupa bila yang melemahkan KPK itu ya bapaknya juga.
Lewat UU KPK no 19 tahun 2019 jokowi menetapkan adanya Dewan Pengawas KPK dengan aturan dalam pasal pasalnya bahwa KPK harus mengkoordinasikan setiap rencana penyadapan kepada presiden (jokowi) dan mengangkat semua pegawai KPK jadi PNS.
Paham tidak apa itu artinya?
Artinya setiap akan lakukan penyadapan maka KPK harus melapor dulu ke jokowi jadi tidak leluasa lagi seperti dulu sementara jokowi paham saat itu yang diincar KPK adalah walikota Solo dan Medan.
Jadi jokowi bisa kasi kode dulu pada dua orang walikota itu agar pembicaraan via hp dilandaikan dulu sampai waktu aman.
Sementara itu status PNS membuat para pegawai KPK jadi kurang garang yang tadinya bagai cowboy bounty hunter jadi kucing rumahan yang manja. Begitu kan sifat PNS pada umumnya. Tidak berani speak up atas kedzaliman cukup cari aman saja dalam kumunafikan.
Di lain sisi ini pertanda juga bahwa partai-partai mapan sudah menghitung bahwa PSI tidak ada apa apanya suaranya setelah ditinggal sebagian besar elemen-elemen pendukungnya dari Projo dan Jokomania serta kalangan akademisi, apalagi PDIP yang tetap loyal teguh pada klan Soekarno dan saat ini pun masih jadi partai terbesar diatas Gerindra dan Golkar.
Ini juga menimbulkan reaksi Kaesang si adik kecil abang jamet yang didudukan sebagai ketua PSI yang dalam kepanikannya bertekad menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang gajah (PSI) padahal semua juga paham Jawa Tengah itu kandang banteng tradisionil.
Itu jelas bentuk kepanikan si adik kecil lugu polos dan bodoh itu dalam membaca sosiologi antropologi masyarakat Jawa.
Jadi apakah benar Gibran benar benar berani dan bisa mengembalikan fungsi dan kekuatan KPK seperti dulu lagi?
Kalau bisa si saya juga malah berterimakasih pada Gibran karena itu akan menjadikan atmosfir penegakan hukum lebih bergairah lagi dan suatu bunuh diri tidak langsung buat Gibran sekeluarga pastinya.
Karena orang dzalim akan saling berperang dengan orang dzalim.
Wassalam.
~DBS~







You’re so awesome! I don’t believe I have read a single thing like that before. So great to find someone with some original thoughts on this topic. Really.. thank you for starting this up. This website is something that is needed on the internet, someone with a little originality!
Balikin aja lagi
Mangkanya KPK yg sekarang ga berani usut ka cepat whoos …( Wong byk antek2 solo disana)