Di negeri ini, inovasi kebijakan tidak pernah kehabisan akal. Jika biasanya uang dicari lewat industri dan manufaktur, Food Estate menawarkan metode yang lebih elegan. Memberi peluang swasta mengelola. Konsesi hutan di dapat maka skema bekerja. Ya skemanya sederhana, nyaris brilian.
Tahap pertama disebut pembangunan pangan.
- Di atas kertas, ini terdengar mulia: membuka lahan, menanam harapan, dan tentu saja—memberi makan bangsa.
- Di lapangan, tahap ini diawali dengan aktivitas yang sangat produktif secara ekonomi: menebang kayu hutan dalam skala besar.
- Kayu ini bukan tujuan, katanya. Ia hanya “konsekuensi logis”. Konsekuensi yang kebetulan bernilai tinggi.
- Kayu diangkut, dijual, didistribusikan—entah sebagai kayu olahan, bahan konstruksi, atau energi biomassa.
- Arus kas mengalir cepat, tidak perlu menunggu panen, tidak perlu pupuk, tidak perlu irigasi.
- Ini fase yang paling efisien: alam bekerja, manusia memanen.
Tahap kedua barulah dimulai ketika hutan sudah tiada.
- Di titik ini, swasta mendadak realistis.
- Mereka menemukan bahwa menanam padi di rawa, mengelola tanah asam, dan membangun irigasi di wilayah terpencil ternyata tidak seindah proposal.
- Risiko tinggi, margin tipis, logistik mahal.
- Maka mereka mundur dengan sopan.
- Di sinilah negara tampil sebagai penyelamat.
- Proyek yang semula disebut “investasi strategis” kini berubah status menjadi “program nasional”.
- Pendanaan berpindah tangan—bukan dari pasar, tapi dari APBN. Pajak rakyat masuk. Anggaran publik bekerja keras untuk membiayai lahan yang sudah kehilangan tutupan hutan, kesuburan alami, dan keseimbangan ekologisnya.
- Ya akhirnya, Negara menanam. Negara membangun. Negara menanggung risiko.
- Sementara fase paling menguntungkan—penjualan kayu—sudah selesai jauh sebelumnya, tanpa perlu laporan publik yang terlalu rinci.
- Inilah keindahan desainnya, keuntungan diprivatisasi, biaya disosialisasikan.
- Jika proyek berhasil, semua akan berkata “ ini bukti keberanian negara.”
- Jika gagal, alasannya juga siap “alam terlalu ekstrem, tanah tidak ramah, petani belum siap.”
- Tak ada yang benar-benar salah. Tak ada yang benar-benar bertanggung jawab.
- Dan publik? Mereka diminta percaya bahwa semua ini demi ketahanan pangan.
- Padahal yang paling kenyang lebih dulu bukan petani, bukan rakyat, melainkan rantai nilai kayu yang sudah pergi jauh sebelum benih ditanam.
Mungkin food estate memang bukan proyek pertanian.
Ia adalah kursus singkat tentang bagaimana hutan berubah menjadi anggaran—dan bagaimana anggaran berubah menjadi kesabaran rakyat.
Dan seperti semua program ‘terbaik’, ia lucu… sampai kita sadar, ini bukan cerita fiksi.
(Erizeli Jely Bandaro)







Komentar