Ferry Irwandi Pamit

✍🏻Risman Rachman (warga Aceh)

Di tanah kami, ada hadih maja yang sangat sakral: “Mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat tamita.” Namun hari ini, kami belajar satu hal lagi; bahwa kebaikan tidak butuh silsilah, ia hanya butuh ketulusan yang melampaui batas wilayah dan suku bangsa.

Kepada saudara kami, Ferry Irwandi,
Hari ini kami mendengar kabar kau pamit. Kami membaca pesanmu yang berat namun penuh kejujuran itu.

Di saat kami masih berjuang mengumpulkan sisa-isa harapan di atas lumpur Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah hingga Aceh Utara, kau hadir bukan sekadar membawa bantuan, tapi membawa oksigen bagi jiwa-jiwa yang hampir menyerah.

Saksi Bisu di Tanah Rencong,
Kami tidak akan lupa. Di saat jembatan putus di Takengon dan seorang ayah harus berjalan kaki ratusan kilometer demi menemui anaknya, atau saat seorang ibu di Pulo Seukee, Baktiya terjebak di atap rumah bersama ular dan buaya dengan tatapan anak-anak yang nyaris kehilangan cahaya, kau dan timmu datang menembus batas itu.

Aceh tidak akan lupa deru mesin Cessna yang membawamu menembus awan Sumatera, atau cahaya solar panel yang kau nyalakan di tengah kegelapan desa-desa kami yang terisolasi.

Kau membuktikan bahwa di tengah tangan-tangan yang membabat hutan kami, masih ada tangan seperti tanganmu yang memilih bekerja hingga raga tak lagi sanggup berdiri.

Tentang Batas dan Integritas,
Kami sangat menghormati keputusanmu untuk berhenti karena alasan kesehatan.

Seperti katamu, menjadi pahlawan bukan berarti berdiri tanpa cacat, tapi tahu kapan harus meletakkan beban agar tidak merugikan orang lain.

Kau telah menjaga amanah belasan miliar rupiah dengan transparansi yang luar biasa, memastikan setiap rupiah berubah menjadi nafas bagi masyarakat yang sedang sesak.

Bagi kami di Aceh, apa yang kau lakukan adalah bentuk nyata dari Meuseuraya—gotong royong tanpa pamrih. Kau tidak hanya memberi kami logistik, kau memberi kami kembali kepercayaan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Terima Kasih, Saudara Kami,
Suaramu yang berat dan bergetar di akhir video itu sampai ke relung hati kami di Serambi Mekkah.

Jangan meminta maaf atas kekuranganmu, Bung Ferry. Justru kamilah yang berterima kasih karena kau telah memaksa ragamu hingga mencapai limit hanya untuk melihat kami kembali tersenyum.

Mungkin kita belum pernah berjabat tangan, namun doa-doa dari para orang tua di tenda pengungsian akan terus mengalir untuk kesehatanmu.

Selamat beristirahat, Pahlawan. Pulanglah dengan bangga. Kau datang membawa rencana di papan tulis, dan kau pergi membawa kelegaan yang tuntas.

Seperti lirik Letto yang menemani perjuangan ini: “Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja, yang menemanimu sebelum cahaya?” Bagi kami, kau adalah embun itu.

Arigatou, Bung Ferry!
Saleum Takzem dari Rakyat Aceh.

(28/12/2025)

Komentar