✍🏻Muhammad Abduh Negara
Orang Indonesia ini suka begini. Ibu-ibu kagum sekali dengan Aa Gym, berharap suaminya seperti Aa Gym, lalu menghujatnya karena poligami dan menceraikan istri pertama. Terkesima dengan kata-kata Mario Teguh, berharap punya kepala keluarga seperti sang motivator, lalu mencacinya karena konflik dan tidak mengakui anaknya. Kesengsem dengan Ridwan Kamil, berharap suaminya seromantis RK, dan sekarang…
Ferry Irwandi saat ini memang sedang naik daun. Kiprahnya dalam ‘memimpin’ aksi massa bulan Agustus kemarin, dan keterlibatannya dalam penanganan bencana Sumatra belakangan ini memang layak diacungi jempol. Tapi ya sudah. Begitu saja.
Saya tentu tidak berharap Ferry kehilangan integritasnya, lalu menjadi sosok mengesalkan seperti banyak aktivis yang masuk dunia politik, lalu terjerumus korupsi, lalu menjilat ludahnya sendiri, lalu kehilangan idealismenya, lalu bermesraan dengan sosok yang dulu dianggap diktator dan musuh ideologis, dan seterusnya. Tentu kita semua tidak berharap Ferry menjadi seperti itu.
Namun, ya sudahlah. Tidak perlu kagum berlebihan. Apresiasi kebaikannya, dan cukup. Lebih-lebih jika anda seorang islamis, lebih tidak layak lagi untuk kagum berlebihan padanya. Dia eksponen Malaka Project, yang asas pemikirannya adalah “anti logika mistika”, pengusung empirisme, yang bertolak belakang dengan dengan pemikiran Islam dalam melihat realitas dan kehidupan.
Bahkan seandainya dia sosok islamis sekalipun, bahkan pimpinan gerakan Islam atau komandan gerakan jihad sekalipun, tidak perlu berlebihan mengaguminya. Apalagi usianya masih muda, masih tidak aman dari fitnah dunia.
Kalau mau mengagumi dan meneladani, kagumi dan teladanilah para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Kalau mau diperlebar lagi, teladani dan kagumilah tokoh-tokoh kebaikan dan islamis yang sudah wafat, yang istiqamah dalam kebaikan hingga akhir hayatnya. Kalaupun mau meneladani orang yang masih hidup, teladanilah orang-orang yang sudah sepuh, yang rambutnya sudah memutih, dan terbukti selamat dari fitnah dunia, baik fitnah harta, fitnah kekuasaan, fitnah wanita, maupun fitnah pemikiran menyimpang. (*)







Komentar