✍🏻Ustadz Muhammad Abduh Negara
Euforia sebagian umat Islam pada Iran dan Ali Khamenei saat ini, atau sebelumnya pada Khomeini di era 80-an, dan Ahmadinejad di erah 2000-an, adalah karena umat Islam begitu rindu sosok pahlawan yang bisa membangkitkan kembali umat Islam, yang bisa membawa kembali kejayaan mereka. Kebanggaan yang sama, ketika umat Islam menceritakan tentang sosok Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih.
Bahkan, hal yang sama—dengan intensitas yang berbeda—terjadi juga pada sosok Raja Faisal dari Saudi, ketika berani menghadapi USA pada dekade 60-an dan 70-an, atau kepada sosok Erdogan yang oleh sebagian orang dianggap akan mengembalikan kejayaan ‘Utsmaniyyah, atau pada sosok Mursi, yang dianggap akan mengubah arah politik Mesir.
Ini juga terjadi—paling tidak bagi sebagian orang—pada sosok Abu Bakr al-Baghdadi yang mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah pada tahun 2014. Yang lumayan baru, euforia yang serupa juga terjadi pada sosok Ahmad Al-Shara’, pemimpin Jabhah Nushrah, lalu HTS, lalu menjadi presiden Suriah, ketika menggulingkan Bashar al-Asad.
Umat Islam terlalu lama terpuruk, menjadi buih, di hadapan para kapitalis dan kolonialis Barat. Ditambah lagi, salah satu tanah suci mereka dirampas oleh penjajah biadab. Para pemimpin negara, banyak yang terlalu cinta dunia, bahkan sebagian dengan jelas menunjukkan sikap sebagai jongos dari Paman Sam. Ini yang membuat umat Islam begitu rindu dengan sosok pahlawan.
Sebagian orang hanya berpasrah diri sambil menunggu datangnya al-Mahdi. Sebagian lagi, mencari sosok-sosok pahlawan itu dari perkembangan politik dunia. Lalu muncullah nama-nama yang saya sebutkan di atas. Kalau anda lihat nama-nama di atas, itu lintas aliran dan manhaj, karena kebanyakan umat Islam memang tidak terlalu peduli itu, saking rindunya pada sosok pahlawan.
Saya tentu tidak menginginkan terjadi ekspansi paham Syiah di negeri kita serta negeri-negeri Islam lainnya. Hanya saja, terlalu fokus pada hal itu, dengan melupakan kerinduan umat Islam pada sosok pahlawan, tidak akan melahirkan apa-apa. Orang-orang yang rindu itu, tidak akan peduli dengan ribuan narasi anda tentang kesesatan Syiah, apalagi jika ditambahi bumbu-bumbu memuji pemimpin negara lain yang secara tampak lahir tidak punya keberanian seperti pemimpin Iran tersebut.
Bahkan, bisa saya katakan, jika paham Syiah tersebar di berbagai negeri Sunni, yang bertanggung jawab bukan hanya para penjaja paham ini yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi juga para penguasa yang diklaim mewakili Ahlus Sunnah, tapi tidak punya keberanian untuk melawan dan berhadapan dengan para penjajah.(*)







se 7..
kita disini liat negara2 muslim non Iran kok malah berkawan sama Amrik dan Isra hell…