ES GABUS DAN PAMER AROGANSI KACUNG RAKYAT
Seorang penjual es gabus dituduh menjual jajanan berbahaya. Tuduhan semena-mena tanpa laporan, tanpa uji laboratorium, tanpa prosedur. Yang hadir hanya seragam, kamera, dan keyakinan bahwa curiga sudah cukup menjadi kebenaran. Dagangan diremas, pedagang dipaksa memakan jualannya sendiri di depan kamera. Publikasi didahulukan, nalar disingkirkan.
Di luar kamera, kekerasan terjadi. Pukulan, ancaman, penghinaan. Ia dipulangkan pagi hari dengan tubuh lebam dan tiga ratus ribu rupiah, seolah martabat bisa ditakar. Beberapa hari kemudian tuduhan runtuh: es gabus itu layak konsumsi. Yang berbahaya justru pola pikir yang mengganti pemeriksaan dengan prasangka.
Permintaan maaf datang sebagai simbol: sebuah motor. Kekerasan diringkas menjadi kompensasi, seakan persoalan hanya kerugian ekonomi, bukan pemaksaan dan rasa takut.
Kasus ini bukan pengecualian, melainkan pola. Aparat pelayan publik yang digaji uang rakyat, memosisikan diri sebagai penguasa. Relasi dibalik: yang membayar diperlakukan sebagai bawahan.
Reposisi harus segera dilakukan. Aparat kembali sebagai pelindung, bukan perundung. Pejabat sebagai pelayan, bukan majikan. Tanpa itu, hari ini es gabus, besok penjual cireng, lusa entah siapa lagi. Negara sibuk membagi simbol, sementara martabat manusia terus digerus.
(Labib Muhsin)







Komentar