Enam Awak Pesawat Militer AS Tewas Setelah Pesawat Ditembak Jatuh Kelompok Perlawanan

Seluruh enam awak pesawat tanker pengisi bahan bakar udara milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan tewas setelah pesawat mereka jatuh di wilayah barat Irak.

Militer AS pada Jumat menyatakan bahwa keenam awak pesawat KC-135 tersebut meninggal dunia setelah pesawat yang mendukung operasi perang melawan Iran itu ditembak jatuh oleh kelompok perlawanan di wilayah barat Irak pada Kamis.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi kematian para awak dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, beberapa jam setelah sebelumnya melaporkan bahwa pesawat pengisi bahan bakar udara tersebut jatuh di Irak barat.

Pada laporan awalnya, CENTCOM menyebutkan bahwa empat dari enam awak pesawat tewas dalam insiden tersebut.

Namun kemudian dikonfirmasi bahwa seluruh awak di dalam pesawat meninggal dunia.

Meski demikian, CENTCOM mengklaim bahwa jatuhnya pesawat tidak disebabkan oleh tembakan musuh maupun tembakan dari pihak sendiri.

Sebaliknya, menurut pernyataan yang dirilis Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran pada Kamis malam, pesawat tersebut sebenarnya menjadi sasaran rudal yang ditembakkan oleh Front Perlawanan di Irak barat.

Dalam pernyataan terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menyatakan bahwa pesawat tersebut dicegat dan dihancurkan ketika sedang menjalankan misi pengisian bahan bakar untuk sebuah jet tempur yang disebut sebagai “pesawat agresor.”

Insiden ini menambah jumlah korban militer Amerika Serikat yang tewas menjadi setidaknya 13 orang, menurut data Pentagon, sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.

Sejak konflik tersebut dimulai, kelompok-kelompok perlawanan di Irak dilaporkan melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap aset militer Amerika Serikat di Irak maupun wilayah sekitarnya.

Pesawat tanker KC-135 ini setidaknya menjadi pesawat militer AS keempat yang diketahui hilang selama perang dengan Iran.

Selain itu, setidaknya tiga pesawat tempur F-15 juga dilaporkan ditembak jatuh di wilayah Kuwait.

Sejumlah pengamat menilai insiden terbaru ini sebagai pukulan besar bagi militer Amerika Serikat.

Menurut mereka, dengan menargetkan pesawat pengisi bahan bakar udara, Front Perlawanan telah menyerang tulang punggung logistik operasi udara Amerika, sekaligus menunjukkan bahwa dominasi udara AS di kawasan tersebut kini tidak lagi tanpa tantangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *