Semua orang itu pada dasarnya punya bakat nyinyir.
Tere Liye, misalnya, jelas sekali nyinyir dgn segala kebijakan pemerintah terkait uang negara. Semakin besar potensi uang yg dikorup, semakin serius sy nyinyir. Tdk peduli dia dari kelompok manapun, dinyinyirin saja.
Kalian? Juga nyinyir. Tapi pastikan jangan milih2, kelompok tertentu dinyinyirin, giliran kelompok lain kena kalian mingkem. Dulu benci Jokowi, dinyinyirin, sekarang fans Prabowo, nggak. Milih2 nyinyirnya.
Bahkan Bahlil pun nyinyir. Lihatlah, dia memilih nyinyirin LPDP. Ikut menari di tengah gelombang. Tapi apakah nyinyiran dia ini penting? Duh Tuhan, itulah kenapa Indonesia itu mendesak sekali sekolah gratis, bukan makan gratis.
Dear pejabat, TOEFL itu nggak tembus 700-800 skornya. Format lama sj masih pakai kertas nggak segini, apalagi format baru. Kelihatan banget kamu nggak sekolah bagus deh. Lebay. Hiperbolik, biar isu soal LPDP ini tetap menyalaaaa.
Kamu lupa, penerima beasiswa LPDP itu memang harus bagus TOEFL-nya, nanti dia kuliahnya gimana? Bahkan jika di kuliah di Indonesia sekalipun, saat dia harus nyari materi riset, bahan2 thesis, disertasi, itu tuh banyak yg pakai bahasa Inggris. Elu sih, nulis karya ilmiah ditulisin orang lain, right?
Dan btw Bahlil, mending elu bahas itu harga minyak dunia yg tembus 110 dollar semalam. Jika perang Iran tambah serius, dan lama, minyak tembus 200 dollar, defisit Indonesia itu bisa super serius.
(Tere Liye)







defisit, tapi tunjangan DPR, pejabat, fasilitas, dan yang bukan hal-hal pokok gak mau di kurangi, rakyat melulu yang disuruh puasa dan berhemat
Kalo defisit makin besar, sekolah harus bayar….MBG gak gratis lagi…harus bayar….
Bowo sayang amat sama termul ini ya…
takut kecewain guru solo