Ekonomi Vietnam melesat tumbuh 8,02%, ini RAHASIANYA

✍🏻Erizeli Jely Bandaro

Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang menembus 8,02% pada 2025 bukanlah anomali statistik, melainkan hasil dari kerja sunyi yang panjang:

  • Teknokrasi yang konsisten,
  • Kelembagaan yang etis,
  • dan Efisiensi kebijakan.

Kehebatan Vietnam bukan terletak pada retorika ideologis atau janji populis, melainkan pada ketepatan desain institusi dan keteguhan eksekusi.

Pertama, Vietnam memahami bahwa pertumbuhan adalah produk dari kepastian.

Pemerintah membangun policy credibility—aturan main yang jelas, stabil, dan dapat diprediksi. Investor tidak dijanjikan insentif berlebihan, tetapi diberi kepastian hukum, kecepatan perizinan, dan disiplin fiskal. Di sinilah peran teknokrat menjadi krusial: mereka bekerja dengan data, target, dan indikator kinerja, bukan dengan slogan.

Kedua, Vietnam piawai membaca lingkungan strategis global.

Ketika dunia memasuki fase fragmented globalization—rantai pasok terpecah akibat geopolitik—Vietnam memosisikan diri sebagai hub manufaktur alternatif yang netral, terbuka, dan kompetitif. Friend-shoring dan China+1 dimanfaatkan bukan sebagai peluang sesaat, melainkan sebagai strategi industrial jangka panjang: kawasan industri terintegrasi, pelabuhan efisien, logistik murah, dan tenaga kerja terlatih.

Ketiga, kelembagaan yang etis menjadi fondasi efisiensi.

Etika di sini bukan jargon moral, melainkan arsitektur insentif yang menekan biaya transaksi: korupsi ditekan melalui digitalisasi layanan, konflik kepentingan dipersempit dengan SOP yang ketat, dan koordinasi lintas kementerian dijalankan dengan single window. Hasilnya sederhana tapi menentukan: waktu adalah biaya, dan Vietnam memangkasnya secara sistematis.

Keempat, Vietnam tidak terjebak pada romantisme negara kuat yang mengendalikan segalanya.

Negara berperan sebagai orkestrator, bukan operator tunggal. Pasar diberi ruang untuk bekerja, sementara negara memastikan kompetisi adil, skills upgrading, dan konektivitas. Pendidikan vokasi diselaraskan dengan kebutuhan industri; kebijakan upah dijaga agar produktivitas tetap menjadi jangkar.

Kontrasnya terlihat jelas ketika kita bercermin ke Indonesia. Potensi Indonesia besar, tetapi sering tersandera oleh ketidakpastian regulasi, policy reversals, dan fragmentasi kelembagaan. Vietnam menunjukkan bahwa lompatan tidak memerlukan terobosan spektakuler—yang dibutuhkan adalah ketekunan teknokratik: menyusun kebijakan yang membumi, menjaga konsistensi, dan menghindari godaan politisasi ekonomi.

Pelajaran kunci dari Vietnam sederhana namun menantang: pertumbuhan berkelanjutan lahir dari tata kelola yang membosankan tapi disiplin. Tidak semua kebijakan perlu viral; yang penting ia bekerja. Dalam dunia yang semakin bising, Vietnam memilih sunyi—dan justru karena itu, ekonominya melesat.

Kesimpulan:

Kehebatan Vietnam adalah kehebatan teknokrat—mereka yang mengelola lingkungan strategis dengan kepala dingin, membangun institusi yang etis dan efisien, serta menempatkan kepastian sebagai mata uang utama pertumbuhan.

(*)

Komentar