Dulu Orang Kaya Ingin Menetap di Dubai, Kini Mereka Berbondong bondong Ingin Pergi

Perang antara Iran dan Amerika Serikat mulai mengguncang posisi Dubai sebagai salah satu pusat kekayaan global. Kota di Uni Emirat Arab itu sebelumnya dikenal sebagai “surga aman” bagi para miliarder dan investor dunia, namun kini banyak ekspatriat serta pengelola kekayaan mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Selama satu dekade terakhir, Dubai berhasil membangun citra sebagai tempat perlindungan bagi kalangan superkaya dunia. Cuaca yang nyaman, tingkat keamanan tinggi, serta kebijakan pajak yang sangat rendah membuat kota ini menarik bagi investor global.

Data dari Henley & Partners menunjukkan jumlah jutawan di Dubai melonjak dua kali lipat sejak 2014 menjadi lebih dari 81.000 orang. Pasar properti mewahnya juga terus melesat, dengan sekitar 500 properti bernilai lebih dari 10 juta dolar terjual pada 2025, meningkat drastis dibanding hanya 30 transaksi pada 2020.

Namun reputasi keamanan itu kini mulai retak setelah konflik Iran memicu serangkaian insiden keamanan di kota tersebut.

Dalam sepekan terakhir, sejumlah serangan dilaporkan terjadi di berbagai titik strategis Dubai. Hotel mewah Fairmont The Palm dilaporkan terkena ledakan, puing drone Iran yang ditembak jatuh memicu kebakaran di hotel ikonik Burj Al Arab, sementara bandara Dubai juga disebut mengalami kerusakan akibat serangan rudal. Bahkan Konsulat Amerika Serikat di Dubai sempat menjadi target dugaan serangan drone yang memicu kebakaran di sekitarnya.

Menurut analis energi di Rice University Baker Institute, Jim Krane, stabilitas adalah fondasi utama model ekonomi Dubai.

“Perang AS–Israel melawan Iran mengguncang aura keamanan yang selama ini menjadi daya tarik utama Dubai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ekonomi Dubai sangat bergantung pada komunitas ekspatriat yang membawa keahlian, tenaga kerja, dan modal investasi. Tanpa stabilitas keamanan, sulit bagi kota tersebut untuk mempertahankan arus talenta dan modal asing.

Pemerintah Uni Emirat Arab segera mencoba menenangkan pasar. Otoritas darurat nasional menyatakan situasi masih “terkendali”. Polisi Dubai juga memperingatkan bahwa siapa pun yang menyebarkan informasi yang dapat memicu kepanikan publik di media sosial bisa ditangkap.

Meski demikian, tanda-tanda eksodus mulai terlihat. Perusahaan penyedia jet pribadi melaporkan lonjakan permintaan penerbangan keluar dari kawasan. CEO Vimana Private Jets, Ameerh Naran, mengatakan pihaknya menerima lebih dari 100 permintaan penerbangan hanya dalam satu malam.

Harga sewa jet pribadi dari Timur Tengah menuju Eropa bahkan bisa mencapai 350.000 dolar per penerbangan.

Sementara itu, perusahaan keamanan internasional Global Guardian mengungkapkan sejumlah klien korporasi besar kini berupaya mengevakuasi 1.000 hingga 3.000 karyawan dari Dubai.

Selain ancaman keamanan, konflik ini juga berpotensi mengguncang sektor properti Dubai yang selama lima tahun terakhir mengalami lonjakan harga tajam. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya bahkan telah memperingatkan kemungkinan koreksi harga hingga 15 persen pada 2025–2026.

Jika konflik berkepanjangan dan eksodus ekspatriat terus terjadi, tekanan terhadap pasar perumahan dan ekonomi Dubai diperkirakan akan semakin besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *