DRAMA SABOTASE BAUT

✍🏻Aceh Opini

Di tengah duka bencana yang menyapu Sumatera, kita justru disuguhi drama baru sabotase baut. KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak meradang. Beliau menyebut ada tangan-tangan “biadab” yang sengaja melepas baut jembatan bailey.

Namun, mari kita bedah narasi ini dengan sedikit common sense (akal sehat) yang masih tersisa.

Ada tiga lubang besar dalam cerita ini:

1. Kejahatan Tanpa Alamat

    Jenderal Maruli menyebut niat pelaku “luar biasa”. Tapi anehnya, lokasi persisnya dirahasiakan. Bagaimana mungkin sebuah sabotase terhadap obyek strategis nasional dilaporkan ke publik namun Tempat Kejadian Perkaranya (TKP) menjadi misteri? Tanpa transparansi lokasi, narasi ini hanya akan menjadi rumor yang dipaksakan menjadi fakta.

    2. Ramalan “Sakti” Seskab

      Seskab Teddy Indra Wijaya diklaim sudah mewanti-wanti potensi sabotase ini. Luar biasa. Jika intelijen kita sudah se-presisi itu mencium aroma hilangnya baut di tengah kekacauan bencana, mengapa sabotase itu tetap terjadi? Apakah peringatan itu hanya untuk bahan konferensi pers, bukan untuk pencegahan?

      3. Logika Sabotase yang Absurd

        Sabotase itu punya target politik atau militer. Menghancurkan jembatan di daerah bencana adalah strategi paling bodoh; pelakunya otomatis menjadi musuh rakyat, bukan pahlawan oposisi. Jauh lebih masuk akal jika “sabotase” ini hanyalah kambing hitam untuk menutupi kelalaian teknis, pencurian material oleh oknum kecil, atau buruknya quality control.

        Kesimpulan kita sederhana: Rakyat di pengungsian butuh jembatan yang kokoh, bukan dongeng sabotase yang teatrikal. Jangan sampai demi sebuah panggung pencitraan, nalar publiklah yang sengaja “dilepas” bautnya hingga goyah dan runtuh.

        (Sumber: fb Aceh Opini)

        Komentar