Ditolak Vivo dan BP, berbahayakah Etanol untuk kendaraan?

✍️Arsyad Syahrial

Membaca berita ini sebenarnya agak kaget juga, sebab:

  • Pertama, campuran hingga 3,5% itu tidaklah sedikit. Perlu dicatat hasil penyulingan minyak mentah (crude oil refining) TIDAK PERNAH ada Ethanol-nya, karena Ethanol itu hasil fermentasi dari cairan yang mengandung gula (biomass), bukan hasil penyulingan minyak bumi.
  • Kedua, Pertamina memang membuat bensin dengan campuran Ethanol, akan tetapi kadarnya adalah 7%, bukan 3,5%.

Jadi itu bukan “tercampur”, namun PATUT diduga ada yang sengaja mencampur.

Adapun pertanyaannya adalah: berbahayakah untuk kendaraan?

  • Jawabannya tidaklah sesederhana “iya” atau “tidak”.
  • Jika pencampuran dilakukan sesuai best practice industri perminyakan, seharusnya aman, karena nilai RON tetap sesuai spesifikasi dan mesin bebas dari knocking. Namun, kepadatan energi (energy density) dari Ethanol itu hanyalah sekitar ⅔ dari bensin murni. Artinya, jika mesin membakar volume sama, energi total yang masuk lebih sedikit → konsumsi per kilometer lebih tinggi (lebih boros).

Selain itu, tidak semua mobil aman memakai bensin dengan campuran Ethanol.

Kenapa?

Karena Ethanol itu mempunyai:

  • Sifat korosif, Ethanol menyerap air, bisa mempercepat karat pada tangki/logam dan memperkeras atau melarutkan karet serta seal bahan bakar.
  • Sifat solubility, Ethanol bisa mengangkat endapan kotoran lama di tangki → mampet filter / karburator.

Selain itu, mobil produksi sebelum tahun 2000an umumnya mesinnya tidak kompatibel dengan bensin bercampuran Ethanol, sebab teknologi mesin lama biasanya adalah karburator + material karet alami, bukan viton atau fluorocarbon seperti di mesin modern.

Bisa disimpulkan mobil yang aman dengan bensin E7 (campuran ±7% Ethanol) umumnya mobil injeksi sejak awal 2000-an, di mana sebagian besar mobil Jepang, Eropa, dan Amerika sudah disertifikasi untuk bensin E10 (campuran ±10% Ethanol) sejak 2000an, jadi otomatis aman dengan bensin E7 (karena memang sudah pakai material tahan Ethanol di selang, seal, fuel pump, dlsb).

Bahkan mobil-mobil dengan mesin turbocharger dan atau mesin dengan settingan ECU agresif justru mendapatkan keutungan jika memakai bensin E10, sebab Ethanol punya latent heat of vaporization yang tinggi → ketika menguap, lebih banyak menyerap panas → intake temperature charge lebih rendah. Sedangkan udara yang lebih dingin = lebih padat = O2 lebih banyak → memungkinkan pembakaran lebih optimal. Efek pendinginan ini bikin ECU berani kasih ignition timing lebih maju atau boost lebih tinggi tanpa knocking → hasilnya: tenaga & torsi bisa sedikit naik dibanding bensin murni, meski RON sama.

Sederhananya, mobil dengan turbo / direct injection jika pakai bensin E10 justru bisa dapat sedikit ekstra tenaga berkat efek pendinginan Ethanol, walau tetap saja lebih boros.

Kembali ke permasalahan awal:

  • Bensin yang berethanol itu seharusnya dijual lebih murah dari bensin murni dengan RON setara, karena Ethanol itu juga lebih murah dikarenakan energy density-nya lebih rendah dari bensin murni.
  • Apabila sengaja mencampurkan Ethanol, itu harus diberitahukan kepada publik, karena kalau tidak itu adalah “pengelabuan” yang bisa membuat sebagian mobil buatan sebelum tahun 2000 rusak.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *