✍🏻Balqis Humaira
gue lagi di labuhan batu yang kotanya rantau Prapat dan gue asli kaget dengan sikon pertama kali nyampe sini, cerita begalnya ada cerita narkobanya bikin greget. Sumpah gaess, gue baru aja beres perjalanan panjang bawa motor lintas pulau, badan rasanya remuk abis nyebrang feri dari pelabuhan nyusuri jalanan Sumatera berjam-jam, berharap pas nyampe di Labuhanbatu ini bisa narik napas lega istirahat sambil cari makan enak. Tapi realitanya? Boro-boro lega, yang ada malah hawanya tegang banget. Begitu masuk kawasan ini, lu langsung bisa ngerasain ada atmosfir yang salah. Ini bukan sekadar kota yang lagi sepi atau kurang hiburan, tapi ini kota yang lagi sakit parah, dikuasai sama hukum rimba yang bikin warga aslinya sendiri ketakutan buat sekadar keluar rumah.
Langsung aja kita hantam ke inti masalahnya, gaess. Kenapa begal dan kartel narkoba bisa subur banget di Rantau Prapat? Jawabannya cuma satu: kebobrokan sistemik yang udah membusuk dari pucuk pimpinan sampai ke oknum penegak hukumnya. Ini bukan kebetulan, ini adalah hasil dari desain kejahatan struktural yang dibiarkan hidup. Lu bayangin, gimana sebuah daerah mau aman kalau pemimpin tertingginya aja mentalnya rampok? Kasus Bupati Erik Adtrada Ritonga yang kemarin kena OTT KPK itu cuma puncak gunung es dari tradisi korupsi yang udah mendarah daging di sini. Gila nggak sih, bupati sebelumnya juga masuk bui gara-gara kasus yang sama. Ini udah kayak penyakit kutukan yang terus diulang-ulang.
Duit APBD triliunan yang harusnya dipakai buat ngebangun daerah, buat masang lampu jalan yang terang benderang biar lu pada nggak was-was bawa motor malam-malam, atau buat ngebuka lapangan kerja riil, malah abis menguap dibagi-bagi di meja makan para elite politik dan kroni-kroninya. Ketika duit negara dirampok terang-terangan dari atas, efek dominonya langsung menghantam keras ke bawah. Pembangunan mandek total, ekonomi kerakyatan mati suri, dan anak-anak muda di sini kehilangan harapan buat dapat kerjaan yang layak. Ketimpangan sosialnya bener-bener brutal, gaess. Labuhanbatu ini dikelilingi perkebunan sawit dan karet yang luasnya gila-gilaan, perputaran uang miliaran bahkan triliunan terjadi tiap hari di atas tanah ini. Tapi ironisnya, warganya sendiri banyak yang cuma jadi penonton pasif, hidup pas-pasan, jadi kuli harian lepas, bahkan banyak yang nganggur tanpa kejelasan masa depan.
Di tengah rasa frustrasi massal dan kemiskinan struktural inilah, kartel narkoba masuk dengan mulus ngambil peran. Dan ini bagian yang bikin gue makin muak sampai ubun-ubun. Kartel sabu di Rantau Prapat itu bukan kelas teri yang main sembunyi-sembunyi di gang sempit gelap. Mereka udah beroperasi layaknya sebuah korporasi besar, buka lapak terang-terangan tanpa rasa takut sedikitpun. Kenapa mereka bisa seberani itu? Ya karena aparat penegak hukumnya banyak yang udah “masuk angin”, gaess. Pakai logika dasar aja deh, mana mungkin bandar narkoba bisa jualan bebas kalau nggak ada yang nge-backingi mereka dari belakang?
Lu pasti denger kan berita yang sempet viral soal jaringan bandar yang berani buka-bukaan ngaku nyetor uang ‘keamanan’ sampai ratusan juta rupiah tiap bulan ke oknum kepolisian setempat? Itu fakta telanjang yang bikin Propam Polda Sumut sampai harus turun gunung meriksa jajaran polres dan satuan narkobanya. Ini bener-bener potret kebobrokan yang bikin kita pengen muntah. Oknum yang dikasih seragam gagah dan senjata sama negara buat ngelindungin warga dari penjahat, malah asyik jabat tangan sama bandar di belakang layar sambil ngantongin gepokan duit haram. Belum lagi ada oknum perwira polisi dari unit Tipikor yang malah ketahuan ikut nikmatin cipratan duit suap dari kasus korupsi bupati kemarin. Bayangin, yang disuruh nangkep koruptor malah ikut-ikutan korupsi! Kalau mental aparatnya udah gampang dibeli pakai duit cash, ya udah, tamat riwayat keadilan di kota ini.
Para pimpinan kartel ini jadi ngerasa superior, mereka tau hukum bisa diatur dan dibengkokkan asal setoran bulanan lancar jaya.
Terus apa hubungannya kebobrokan di atas sama begal yang makin brutal di jalanan?
Ini dia benang merahnya, gaess. Begal di Rantau Prapat itu adalah anak kandung dari suburnya peredaran narkoba. Mayoritas pelaku begal sadis yang berkeliaran bawa celurit atau parang di jalanan itu adalah pecandu aktif, terutama pengguna sabu-sabu. Narkoba jenis ini ngerusak saraf otak secara fatal, bikin orang hilang akal sehat, hilang empati, dan sama sekali nggak punya rasa takut. Ketika mereka lagi sakau berat dan butuh asupan barang tiap hari tapi nggak punya pekerjaan buat beli, otak mereka cuma mikir satu hal: cari duit instan secepat mungkin.
Dan cara paling gampang, paling minim effort ya turun ke jalan jadi begal.
Mereka udah nggak peduli siapa yang jadi korbannya. Mau bapak-bapak yang kelelahan sepulang kerja shift malam, mau emak-emak yang lagi bonceng anak kecil, kalau di mata para pecandu ini targetnya bisa jadi ‘duit’ buat beli sabu, bakal langsung disikat tanpa ampun. Mereka nekat ngebacok leher orang, nendang motor yang lagi melaju kencang, bahkan sampai ngebunuh nyawa orang cuma demi ngerampas motor. Motor hasil rampasan itu nantinya cuma bakal dijual miring seharga satu atau dua juta perak doang di pasar gelap. Hasil penjualannya? Uangnya langsung muter lagi masuk ke kantong bandar narkoba. Ini lingkaran setan yang bener-bener nggak ada putusnya. Nyawa warga Rantau Prapat di jalanan sekarang harganya udah didegradasi habis-habisan, cuma sebatas seharga satu paketan klip sabu-sabu.
Efek domino dari rasa aman yang hilang ini beneran merusak semuanya, termasuk ekonomi kecil. Lu bayangin, gue yang seneng banget mampir jajan di warung pinggir jalan atau makan pecel lele kaki lima, jadi mikir dua kali kalau mau nyari angin malam di sini. Pedagang kecil pinggir jalan yang harusnya bisa jadi penggerak muterin ekonomi lokal malah sepi pembeli karena orang-orang pada takut keluar rumah kalau udah gelap. Malam hari yang harusnya jadi waktu istirahat dan bersosialisasi buat warga malah berubah jadi jam malam dadakan karena teror maut mengintai di mana-mana.
Jadi, kejahatan ini subur bukan karena pelakunya pinter atau sakti, tapi karena ekosistemnya sengaja dibiarkan membusuk. Kartel narkoba dengan leluasa nyediain barang haram karena udah bayar upeti ke oknum aparat. Aparat nutup mata karena perutnya udah kenyang dikasih jatah preman bulanan. Birokrat dan elite politiknya sibuk nyolong uang APBD sampai buta dan tuli sama kewajiban mereka ngurusin hajat hidup orang banyak. Terus yang jadi tumbal dari semua keserakahan ini siapa? Ya warga sipil biasa. Lu yang kerja keras banting tulang seharian, lu yang taat bayar pajak ke negara, tapi lu juga yang harus taruhan nyawa tiap kali lewat jalanan sepi sepulang kerja.
Gue ngelihat realita di Labuhanbatu ini bener-bener ngerasa ini adalah bentuk kezaliman paling nyata dan terstruktur. Orang-orang elit di atas sana asyik mainin kekuasaan dan ngitungin duit proyek, sementara masyarakat di bawah dibiarkan berjuang sendiri, saling terkam kayak di hutan rimba. Kepercayaan publik ke institusi negara di sini udah hancur lebur berkeping-keping. Warga sekarang udah apatis dan mikir dua kali buat lapor polisi kalau ada kejadian pembegalan, karena mindset yang kebentuk di kepala mereka udah pesimis duluan, “ah paling juga ujung-ujungnya dimintain duit operasional,” atau “paling pelakunya ntar dilepas lagi kalau bekingannya kuat.”
Akhirnya, nggak sedikit warga yang milih main hakim sendiri kalau berhasil nangkep maling atau begal di kampung mereka. Mereka pukulin sampai babak belur, bahkan dibakar, karena masyarakat ngerasa itu satu-satunya bentuk “keadilan” yang masih bisa mereka jangkau dan akses saat ini. Ini ngeri banget, gaess.
Selama rantai setan ini nggak diputus secara paksa dan radikal dari akarnya—selama elite daerahnya masih punya mental maling APBD dan aparat penegaknya masih seneng jadi budak piaraan bandar narkoba—Labuhanbatu bakal terus jadi surga buat para kriminal. Hukum di sini emang secara harfiah cuma tajam ke bawah buat rakyat kecil, tapi tumpul merana ke atas buat mereka yang punya duit. Buat warga biasa, pilihannya saat ini cuma dua: terus-terusan hidup diam dalam ketakutan, atau mulai berani bersuara ngelawan kebobrokan ini rame-rame tanpa henti.
Gue pribadi beneran ngerasa harus ekstra waspada bawa motor di daerah sini, mesti pinter-pinter milih rute yang terang dan aman. Menurut lu sendiri gaess, sebagai orang yang paham medan di sini, selain di jalan lintas Sumatera, daerah mana lagi sih di sekitaran Rantau Prapat ini yang paling jadi “sarang” dan wajib banget gue hindarin kalau terpaksa harus lewat jam 10 malam ke atas?
(sumber: fb)







Parcok sekarang tambah asik ikutan embege