Oleh: Ismail Amin, WNI sementara menetap di Iran
Kesalahan Perhitungan Agen Asing di Iran
Rencana mereka sejatinya sudah disusun rapi.
Ketika demonstrasi pecah akibat persoalan ekonomi, para agen asing menyusup ke barisan massa. Dari dalam, mereka mulai meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan anti–rezim ulama. Setiap teriakan itu sudah diantisipasi: ada tim khusus yang bertugas mendokumentasikan. Video kemudian langsung dikirim ke “penadah” yaitu para influencer bayaran yang memiliki jutaan pengikut untuk dibingkai dalam satu narasi tunggal: ini adalah aksi rakyat Iran melawan pemerintah dan tuntutan pergantian rezim. Bukan demonstrasi biasa, melainkan gerakan revolusi. Tirani akan tumbang. Rezim ulama akan berakhir. Narasi itu pun dibumbui dengan plan Ayatullah Khamenei melarikan diri ke Moskow jika situasi tidak lagi terkendali.
Media-media internasional lalu mengulang narasi yang sama. Seolah-olah semua terjadi secara spontan dan organik, padahal sejak awal sudah ada persengkokolan yang terencana. Inflasi yang melonjak juga telah by design sebelumnya, melemahnya nilai mata uang Iran adalah dampak nyata dari sanksi dan pressure maksimal yang telah diterapkan AS dan Eropa.
Namun rencana ini terbentur pada satu hal yang tidak mereka perhitungkan: kejelian dan kewaspadaan rakyat Iran. Masyarakat dengan cepat menarik diri dari demonstrasi. Hari-hari berikutnya, jumlah massa turun drastis. Jalanan kembali normal, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Dan memang sejak awal tidak ada aktivitas yang diliburkan oleh pemerintah. Pada hari-hari dimana media memberitakan Iran lumpuh, 30 provinsi di-shutdown dan situasi tidak terkendali saya pribadi malah berseliwaran ketiga kota, Qom, Teheran dan Kerman. Mobilisasi lancar dan perjalanan antar kota tidak ada kendaraan sama sekali.
Sementara itu para agen asing masih tetap melanjutkan aksinya. Tidak lagi di jalan-jalan utama. Tapi malah menyingkir ke jalan-jalan sepi. Mereka membakar bak sampah menurunkan plang-plang pemerintah sembari meneriakkan yel-yel anti rezim. Disetiap titik keributan jumlah mereka tidak pernah lebih dari 100 orang. Mereka memproduksi video-video baru dengan muatan emosi yang lebih kuat. Ditampilkan wajah-wajah tampan dan cantik pemuda-pemudi Iran, lalu diklaim sebagai “korban kebrutalan aparat”. Padahal yang dimaksud masih hidup bahkan ada yang malah wajah artis Turki. Kekurangan foto dokumentasi dari aksi mereka yang menggambarkan banyak massa, membuat mereka terpaksa memproduksi foto-foto rekayasa AI. Atau mencomot foto dan video kejadian lain lalu diberi narasi itu adalah aksi demonstrasi terbaru. Pada saat yang sama, watak asli mereka mulai terbuka. Mereka menyerang aparat keamanan dan mengancam warga lain dengan kekerasan agar ikut bergabung. Demonstrasi berubah menjadi intimidasi.
Puncaknya terjadi pada Kamis malam (8/1), ketika Reza Pahlavi menyerukan kepada para agennya untuk turun ke jalan secara serentak dalam aksi besar anti-pemerintah. Namun malam itu kembali membuktikan kegagalan mereka: yang turun hanya kelompok mereka sendiri. Mayoritas rakyat Iran tidak terpengaruh dan tetap menjalani kehidupan normal.
Dalam kondisi frustrasi, mereka menjadi semakin brutal, terlebih ketika malam itu internet diputus total. Sambungan seluler lumpuh, telepon tak bisa digunakan, SMS tak terkirim. Tanpa jalur komunikasi, koordinasi antarkelompok kacau. Mereka menjadi tidak terkendali. Aparat diserang, fasilitas publik dirusak, properti warga dibakar, bahkan masjid dijadikan sasaran.
Ironisnya, di sinilah kesalahan fatal mereka terjadi.
Seberapa keras pun aparat dipancing untuk menembakkan senjata api, aparat tetap menahan diri. Mereka sadar betul bahwa satu tembakan saja akan menjadi bidikan kamera dan dipelintir sebagai “bukti digital pembantaian”. Aparat memilih disiplin dan pengendalian diri. Mereka memilih tidak menggunakan senjata, meski bisa. Keputusan yang berbuah fatal. Upaya sejumlah aparat menghentikan kebrutalan para agen dengan tangan kosong membuat mereka justru meregang nyawa. Ada yang mati ditembak jarak dekat, ditikam, ditimpuk batu dan dikeroyok. Sekali lagi semua kebrutalan dan aksi vandalis para perusuh itu tererekam oleh kamera cctv dan disiarkan di tv-tv nasional dan swasta.
Akibatnya simpatik berbalik kepada para aparat. Seberapapun massif dan derasnya informasi provokatif media luar menyebut korban kebrutalan aparat pada demonstrasi telah menelan korban jiwa 2000, 5000, 12 ribu sampai 50 ribu, rakyat Iran tidak percaya dengan semua itu. Mereka percaya memilih aksi brutal para perusuh yang ditayangkan di tv.
Yang lebih memperparah kondisi para perusuh sebenarnya adalah, tidak satu pun foto atau video aparat melakukan kekerasan bersenjata yang berhasil diperoleh. Internet yang terputus membuat mereka tak bisa mengirim apa pun. Sebaliknya, yang terdokumentasi rapi justru aksi kebrutalan mereka sendiri melalui CCTV: membakar masjid, membalik dan membakar mobil warga, menyerang rumah sakit, kantor bank, pemadam kebakaran, hingga armada bus. Semua ini disiarkan langsung oleh televisi nasional. Seluruh rakyat Iran menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Hari-hari berikutnya, rakyat Iran turun ke jalan jjjbukan untuk melawan pemerintah, melainkan mengutuk aksi para perusuh. Mereka menegaskan bahwa para perusuh bukan bagian organik dari rakyat Iran. Mereka adalah penjahat yang harus ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Rakyat benar-benar marah.
Para agen asing makin mulai kebingungan. Terputusnya internet memutus koordinasi mereka dengan dinas intelijen asing. Perangkat Starlink yang mereka miliki pun tidak berfungsi, bahkan berhasil dilumpuhkan dan dibuat tak berdaya oleh sistem pengamanan Iran.
Hingga pada Sabtu malam (9/1), ketika Starlink sengaja dibuat mendapatkan sinyal, justru itulah akhir dari permainan mereka. Dengan internet nasional tetap lumpuh dan hanya Starlink yang aktif, titik koordinat para agen menjadi mudah dilacak. Aparat bergerak cepat. Penyergapan dilakukan malam itu juga. Mereka ditangkap satu per satu.
Operasi penyergapan kembali didokumentasikan dan ditayangkan di televisi nasional. Publik melihat langsung barang bukti yang disita: senjata, alat spionase, perangkat komunikasi canggih dan Starlink yang berubah menjadi senjata makan tuan.
Fakta-fakta ini menegaskan bahwa kerusuhan tersebut bukan gerakan rakyat, melainkan rekayasa agen bayaran asing. Para perusuh bukan menyelesaikan masalah ekonomi, melainkan menciptakan masalah baru. Rusaknya fasilitas publik justru memperburuk kondisi ekonomi nasional, sebuah ironi yang disadari rakyat Iran.
Puncaknya terjadi pada Senin (12/1). Jutaan rakyat Iran turun ke jalan mendukung pemerintah, berterima kasih kepada aparat keamanan, dan menyatakan kesetiaan kepada kepemimpinan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Amerika Serikat dan Israel dikecam secara terbuka dalam pawai raksasa tersebut.
Seluruh propaganda musuh runtuh total. Habis pawai akbar ini, tidak ada lagi aksi kerusuhan.
Aparat keamanan yang semula ingin dibingkai dan dicitrakan sebagai algojo kematian justru semakin dicintai rakyat. Mereka yang gugur disebut syuhada penjaga keamanan, dimakamkan dengan iringan lautan massa. Sementara para perusuh yang digelandang paksa sebagai tersangka dipandang sebagai pengkhianat, penjual negara, pembuat onar dan pantas untuk digantung.
Tak ada yang mereka peroleh kecuali kehinaan dan nama buruk dalam sejarah.
Sementara di tempat lain, Donald Trump yang merupakan aktor utama penggerak para perusuh, menahan amarah sambil mengatakan, cukup sudah, Iran sudah seharusnya punya pemimpin yang baru. Saya akan membuat Iran terhapus dari peta.
Begitu kronologinya.
(Ismail Amin, WNI sementara menetap di Iran)







Komentar