Dulu, waktu orang itu ngoceh soal Kartu Pra Kerja, jangankan rakyat awam, bahkan ahli-ahli pun menangis terisak saking terharunya. Bahwa, kualitas SDM Indonesia rendah, maka perlu ditingkatkan. Bahwa pemberian pelatihan-pelatihan akan sangat bermanfaat. Duh…. indah banget argumennya.
Tapi saya tidak. Saya menyimak dulu.
Lantas program ini mulai dimatangkan, dan mereka bilang: “pelatihan online”.
Saya tertawa terpingkal-pingkal. Whaaaat? Kamu pengen naikin kualitas SDM, lewat pelatihan ONLINE? Duh Rabbi, penduduk Indonesia itu, bahkan dikirim ke sekolah fisik 12 tahun SD+SMP+SMA/SMK, kualitasnya begitulah, apalagi cuma online.
Tapi tapi tapi kan pandemi tapi tapi tapi. Wuiih, buanyak banget tapinya.
Saya merilis tulisan pertama saya dulu: “Catat baik2, tdk akan sampai 5 tahun, program ini akan mati! Karena ini tuh cuma proyek. Mereka TIDAK peduli dgn apa hasilnya, yg penting duit triliunan ngocor deras. Penyedia pelatihan online pesta pora. Entah mengalir kemana itu duit. Saat proyek ini mati, kalian telah sibuk dgn proyek lain dgn dana berkali lipat triliun.”
Saksikanlah hari ini my dear rakyat Indonesia yang bebal,
18,9 juta penerima Kartu Pra Kerja, 68 triliun lebih duit negara ngocor deras. 40 triliun masuk kantong penyedia pelatihan. APA HASILNYA? Wuiih, 1000-2000 orang ngaku sukses gara-gara pra kerja, dari 18,9 jt? Lucuuu.
Kalau duit ini untuk beasiswa LPDP, itu tuh bisa menghasilkan 20.000 lulusan LPDP di Eropa, AS. Bahkan jika mereka tetap di sana, tidak pulang. TETAP lebih bagus, karena setidaknya ada hasilnya. Jadi orang. 18,9 juta orang nonton video online, klik klik. Yang video-video itu banyak gratisannya di youtube dkk. Jadi apa kalian? Tinggal di Eropa?
Hari ini, akun instagram Kartu Pra Kerja dengann follower 4 juta lebih cuma bangkai busuk (@prakerja.go.id). Mana dulu bos-bos Kartu Pra Kerja heh? Mana dulu penerima? Alumni? Mana dulu netizen yang belain program ini?
Wakakakak, sudah sibuk bancakan MBG. Dengan dana berkali lipat, 335 triliun. Tambahkan Koperasi-koperasian.
Indonesia ini seharusnya dari dulu bisa maju.
Tapi begitulah, dipenuhi proyek-proyek.
Dan rakyatnya bebal! Bukannya nyadar, mereka bersorak… horeee makan siang gratis buat anak-anak saya. Horeee, ada koperasi-kopersian…
(Tere Liye, penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar)







Saya juga heran, emang bebal2 otak rakyat Konoha ini