Buset! Ternyata Indonesia Gak Punya Penangkis Rudal Balistik

Di era perang modern seperti sekarang, lihat saja konflik Iran-US-Israel Maret 2026 yang penuh rudal balistik dan hipersonik, Indonesia masih tertinggal jauh dalam kemampuan pertahanan udara. Fakta pahit: hingga 2026 ini, TNI belum memiliki sistem anti-rudal balistik (anti-ballistic missile/ABM) dedicated yang mampu mencegat rudal balistik jarak menengah atau jauh. Bukan cuma rumor, ini realitas yang diakui berbagai analisis pertahanan.

Sistem utama kita seperti NASAMS (dari Norwegia/AS) memang tangguh lawan pesawat tempur, drone, rudal jelajah, dan ancaman udara konvensional, jangkauan hingga 50 km dengan rudal AIM-120 AMRAAM. Ada juga Mistral, Starstreak, Chiron, dan Hisar yang melengkapi lapisan pendek-menengah. Tapi semuanya dirancang untuk target subsonik/supersonik biasa, bukan rudal balistik yang meluncur balistik tinggi dengan kecepatan Mach 5+ dan lintasan parabola. Sistem seperti Patriot PAC-3, THAAD, atau S-400 yang punya kemampuan anti-balistik belum kita miliki. Bahkan interest ke S-400 atau ADS-400 (dari Ceko) masih sebatas diskusi atau rencana, belum terealisasi.

Ironisnya, kita justru gencar beli senjata ofensif: KHAN SRBM dari Turki (jangkauan 280 km, sudah deploy 2025-2026), BrahMos supersonic cruise missile dari India (deal Maret 2026), Rafale, KF-21, dan drone ANKA. Ini bagus untuk deterrence dan strike capability, tapi kok pertahanan pasifnya (shield) dibiarkan lemah? Di kawasan Indo-Pasifik yang rawan ancaman rudal dari China atau North Korea seperti yang dibahas di berbagai laporan, tanpa ABM, objek vital seperti Natuna, IKN baru, atau Jakarta rentan sekali.

Anggaran pertahanan naik jadi Rp187 triliun di 2026, tapi prioritas masih ke alutsista ofensif dan modernisasi armada, bukan layered missile defense. Padahal MEF (Minimum Essential Force) seharusnya seimbang, jangan sampai kita punya “tombak” tapi tanpa “perisai”. Kalau konflik regional meletus, kita bergantung radar dini + fighter intercept, tapi itu bukan solusi ideal lawan saturasi rudal.

Sudah saatnya pemerintah dan Kemhan serius kejar ABM lokal atau akuisisi cepat. Jangan tunggu ancaman datang baru panik. Indonesia besar, tapi tanpa pertahanan udara kuat, kedaulatan langit Nusantara masih rapuh. Waktunya action, bukan cuma rencana!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar