✍🏻Balqis Humaira
Sumpah ya, gue tuh kadang bener-bener ngerasa capek sendiri ngeliat kolom komentar netizen kita. Apalagi kalau udah menyangkut kasus-kasus sensitif yang korbannya rakyat kecil dan pelakunya pakai seragam. Kayak kasus yang lagi rame banget ini, kejadian tragis di jalan RSUD Maren Tual, Maluku. Ada seorang anak SMP umur 14 tahun, namanya Arianto Tawakal, meninggal dunia gara-gara dipukul pakai helm sama seorang oknum Brimob. Dan Brimob itu udah ada namanya, Bripda Masias Siahaya.

Di saat orang-orang waras pada marah, patah hati, dan nuntut keadilan buat si bocah yang tewas sia-sia ini, eh selalu aja muncul komentar yang bikin dahi mengkerut. Salah satunya dari akun bernama Edityo Zahari Paidi ini. Dia dengan entengnya nulis komentar: “Memang sudah ajalnya. Ya kebetulan brimob itu perantara ajalnya.”
Gue bukannya mau nyerang personal lo ya, Edityo. Gue nggak mau marah-marah buta. Tapi lewat curhatan ini, gue cuma mau ngajak lo, dan orang-orang yang sering punya mindset kayak lo, buat duduk sebentar dan mikir pelan-pelan. Ngalir aja nih kita ngobrolnya, santai tapi pakai logika. Lo sadar nggak sih kalau narasi “takdir” dan “perantara” yang lo pake buat maklumin tindakannya Bripda Masias Siahaya itu sebenarnya adalah bentuk pemahaman tentang takdir Tuhan yang agak keliru? Dan pemahaman kayak gini tuh bahaya banget kalau dinormalisasi di tengah masyarakat.
Gini deh, biar simpel dan gampang masuk di akal, kita pakai analogi yang sering banget kepakai kalau lagi ngobrolin soal free will (kehendak bebas) versus takdir. Lo bayangin konsep ketuhanan dan takdir semesta ini mirip kayak federasi sepak bola dunia, yaitu FIFA.
Tugas FIFA itu apa sih? FIFA itu yang bikin hukum dasar dan aturan main (rules of the game) di atas lapangan rumput. Mereka yang nentuin dimensi lapangan harus segimana, bola itu harus bulat dan bukan kotak, nggak boleh ada pemain yang handsball kecuali kiper, dan ada hukum sebab-akibat di sana: kalau lo ngelakuin tackle dari belakang yang membahayakan lawan, lo bakal kena kartu merah dan dihukum keluar lapangan.
Tapi pertanyaannya: apakah FIFA yang turun tangan ngatur gerak-gerik kaki tiap-tiap pemain? Apakah FIFA yang nge-remote otak seorang bek buat sengaja nginjek kaki striker lawan? Nggak sama sekali, buat mas satpol pp yg komen. FIFA cuma nyediain lapangan, waktu 90 menit, dan hukum alamnya. Para pemain dibebaskan seratus persen buat main pakai akal, strategi, dan fisik mereka sendiri. Mereka punya free will.
Nah, Tuhan dan alam semesta ini konsep kasarnya mirip kayak gitu. Tuhan itu menciptakan semesta ini lengkap dengan “hukum mainnya”, yang sering kita sebut Sunnatullah atau hukum sebab-akibat (kausalitas). Tuhan bikin hukum fisika dan hukum biologi. Tuhan mendesain tengkorak manusia itu punya batas toleransi kekuatan tertentu. Tuhan juga bikin aturan logis bahwa kalau ada benda tumpul, keras, dan berat—seperti helm—dihantamkan dengan tenaga penuh ke kepala seorang manusia—apalagi kepala anak 14 tahun yang anatominya belum sekeras orang dewasa—ya pasti akibatnya bakal terjadi gegar otak, pendarahan, dan bisa berujung pada kematian. Itu adalah hukum biologinya. Itu rules of the game-nya.
Terus, di lapangan kehidupan nyata ini, berdirilah seorang pemain bernama Bripda Masias Siahaya. Sebagai manusia dewasa yang terlatih, dia ini punya akal sehat, punya kehendak bebas, dan punya kesadaran penuh saat dia lagi bertugas. Nggak ada ceritanya Tuhan merasuki tubuh Masias Siahaya buat nyuruh dia berhentiin motor si Arianto Tawakal. Nggak ada ceritanya takdir dari langit turun memaksa tangan Masias buat ngambil helm itu dan mengayunkannya keras-keras ke arah dua bocah yang lagi naik motor tersebut.
Bripda Masias Siahaya memilih untuk melakukan kekerasan itu secara sadar. Dari sekian banyak cara untuk memberhentikan dugaan balap liar, dia memilih cara yang paling brutal dan melanggar aturan main (SOP kepolisian dan hukum negara). Dan ketika helm itu menghantam tubuh atau kepala korban, hukum biologi dan fisika ciptaan Tuhan otomatis bekerja. Anak itu jatuh, terluka parah, dan nyawanya nggak tertolong.
Jadi, menyebut tindakan brutal Bripda Masias Siahaya itu seolah-olah cuma sebuah “kebetulan” dan dia cuma “perantara ajal” itu sama aja lo lagi mengkambinghitamkan Tuhan atas kejahatan yang dilakukan manusia. Itu sama konyolnya kayak pemain bola yang sengaja matahin kaki lawannya pakai tackle dua kaki, terus pas wasit ngeluarin kartu merah, si pemain protes: “Loh kok saya dikartu merah? Ini kan udah takdir dari FIFA kalau tulang kering dia patah hari ini. Saya dan sepatu bola saya ini cuma perantara takdir patah tulangnya aja, Dok!” Kan absurd banget dengernya, Bro.
Kenapa pemahaman fatalis (pasrah bongkokan sama takdir) kayak yang lo ketik itu bahaya banget buat peradaban kita? Karena ini ngilangin yang namanya pertanggungjawaban personal alias accountability. Kalau kita mengaminkan logika bahwa semua pembunuh, pemerkosa, koruptor, dan pelaku kekerasan itu cuma sekadar “perantara takdir Tuhan”, ya udah, besok kita bubarin aja semua pengadilan di Indonesia. Kita tutup semua kantor polisi dan kejaksaan. Buat apa kita bikin undang-undang pidana? Buat apa negara capek-capek bikin Rutan Polres Tual tempat Masias Siahaya ditahan sekarang? Toh semuanya udah “diatur”, kan?
Gue paham sih, secara psikologis, kadang manusia itu lebih suka nyalahin “takdir” karena itu ngasih rasa nyaman. Jauh lebih gampang buat bilang “sudah ajalnya” daripada harus menghadapi realita yang menakutkan: bahwa sistem keamanan kita bobrok, dan oknum aparat yang dibayar pakai pajak rakyat ternyata bisa membunuh anak-anak kita kapan saja di pinggir jalan. Menyebut kata takdir itu jadi mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) biar kita nggak terlalu stres mikirin betapa rentannya nyawa kita di hadapan arogansi seragam. Tapi, kenyamanan semu ini justru bikin kita diam saat diinjak-injak.
Coba deh lo refleksikan ke kehidupan sehari-hari lo sendiri. Lo kerja, berinteraksi sama orang, punya keluarga. Kalau amit-amit, suatu hari ada orang yang secara sengaja nyelakain keluarga lo pakai kekerasan, apakah lo bakal berdiri di depan polisi dan dengan tenang bilang, “Ya udah Pak Polisi, bebasin aja pelakunya. Memang sudah ajalnya keluarga saya celaka. Kebetulan pelaku dan alat pukulnya itu cuma perantara aja”?
Gue yakin sejuta persen, lo nggak bakal ngomong gitu. Lo pasti bakal ngejar pelaku itu sampai ke ujung dunia, nuntut pasal berlapis, dan minta keadilan ditegakkan sekeras-kerasnya. Kenapa? Karena di lubuk hati lo yang paling dalam, lo tahu bahwa orang yang dengan sengaja melukai orang lain itu adalah subjek yang harus dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya sendiri, bukan boneka takdir.
Hukum kausalitas itu nyata, bos. Tuhan itu Maha Adil, dan keadilan-Nya justru terlihat dari hukum sebab-akibat yang berlaku di semesta ini. Siapa yang menabur kekerasan, dia harus menuai hukuman. Bripda Masias Siahaya sudah memilih untuk melepaskan kendali emosinya dan memakai kekerasan fatal. Maka dari itu, dia wajib dan harus menghadapi konsekuensi penuh dari hukum dunia (pidana dan kode etik Polri), tanpa perlu kita lindungi tindakannya pakai tameng “sudah ajalnya”.
Jadi, obrolan ngalur-ngidul gue ini intinya satu: ayo kita berhenti ngegunain narasi agama atau kata “ajal” buat menormalisasi dan ngasih toleransi ke tindakan kriminal. Arianto Tawakal itu anak manusia, punya mimpi, punya keluarga yang hancur hatinya karena kehilangan dia dengan cara yang sangat-sangat nggak wajar. Mari kita dudukkan perkaranya murni secara logis. Ini adalah kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang oleh oknum aparat. Nggak usah dikasih sugarcoating pakai bahasa spiritual yang ujung-ujungnya malah ngaburin empati dan rasa keadilan kita sebagai sesama manusia.
Keadilan buat Arianto dan kakaknya, Nasri Karim, jauh lebih penting buat diperjuangkan ketimbang ngelontarin komentar fatalis yang bikin pelaku seolah-olah terbebas dari dosa pribadinya. Keduanya butuh keadilan nyata, bukan sekadar pasrah pada takdir. (*)









kasus yang ojol meninggal dilindes gak jelas, ini lagi .. kalau pakai logika mas-nya, maka gak usah ada penegak hukum sih, karena semua terjadi karena sudah takdirnya …
bahaya bos kalo aturan mainnya seperti itu, hari ini lu bisa bebas, besok2 pas lu lagi ngatur lalu lintas terus tiba2 ada yg nikam lu dari belakang, rakyat nanti tinggal bilang, sudah takdir matinya begitu … lu mau ngomong apa? jangan dibiasakan ngomong gak pake otak seperti itu
Saya mikirnya akibat pimpinan otaknya cuma kuasa bukan mengayomi jd sok2an aja mumpung punya kuasa…ntar sadar2 ketika anak cucunya di hantam didepan matanya. Mersakan betapa sakit hati meski pelaku sudah dihukum atau malah divonis bebas