BoP BUNTU, GAZA TERANCAM ESKALASI PENUH

BOP BUNTU, GAZA TERANCAM ESKALASI PENUH

Per 25–27 Februari 2026, laporan The Guardian menunjukkan bahwa rencana perdamaian Gaza memasuki fase stagnan.

Dan titik kebuntuannya soal mekanisme dan urutan pelucutan senjata HAMAS

Fase kedua gencatan senjata yang dimediasi AS mencakup tiga agenda besar:

  • Pelucutan senjata HAMAS
  • Penarikan pasukan Israel
  • Pembentukan pemerintahan sementara Palestina di Gaza yang didukung polisi Palestina dan pasukan stabilisasi internasional (ISF)

Israel menuntut pelucutan total dilakukan terlebih dahulu.
Klaim Israel AS akan memberikan tenggat 60 hari.
Bezalel Smotrich bahkan menyebut akan ada ultimatum demiliterisasi penuh.

Menurut laporan The Guardian dalam pidato terakhir, Trump tidak secara terbuka menyampaikan ultimatum tersebut maupun menjelaskan mekanisme operasional Dewan Perdamaian (BoP).

Media Israel Hayom menyebut NCAG (Komite Nasional untuk Administrasi Gaza) akan menawarkan skema pelucutan bertahap selama enam bulan. Namun laporan itu berbasis sumber anonim dan tidak dikonfirmasi secara resmi.

Analis keamanan Israel, Michael Milshtein dari Universitas Tel Aviv, menilai kabar tersebut lebih menyerupai angan-angan daripada strategi realistis.

Artinya bahkan di internal Israel sendiri, gagasan pelucutan total belum tentu dianggap sebagai rencana yang realistis bahkan dianggap angan – angan.

Kabar terbaru NCAG belum siap memasuki Gaza karena:
– Pendanaan berjalan lambat
– Pengaturan keamanan belum final
– Jumlah polisi terlatih belum memadai untuk 2,2 juta penduduk
– Israel memveto kandidat Polisi yang pernah bertugas di era HAMAS.

Soal ISF yang, berapa negara, termasuk Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania, siap berkontribusi untuk ISF.

Dalam laporan tersebut juga negara-negara penyumbang tidak ingin pasukan mereka ditugaskan untuk merebut atau melucuti senjata HAMAS.

Narasi bahwa pasukan internasional akan datang untuk “melucuti HAMAS dengan paksa” tidak sejalan dengan sikap negara kontributor.

Analis ECFR, Muhammad Shehada, menilai HAMAS hampir pasti menolak skema pelucutan seperti digambarkan media Israel.

Sebab skema itu mengharuskan HAMAS menyerahkan aset militernya tanpa jaminan:

  • Penarikan penuh pasukan Israel
  • Pelucutan kelompok bersenjata lain
  • Kepastian keamanan jangka panjang

Dalam situasi seperti itu, menyerahkan senjata berarti memasuki masa transisi tanpa perlindungan jika perang kembali pecah.

Beberapa analis menyebut HAMAS mungkin lebih terbuka pada model pembekuan senjata ofensif (misalnya roket), sambil mempertahankan senjata ringan untuk keamanan internal.

Sikap HAMAS: Komitmen pada Fase Kedua

Di tengah spekulasi eskalasi baru, pernyataan juru bicara HAMAS menunjukkan komitmen untuk melanjutkan fase kedua gencatan senjata.

HAMAS menyatakan kesiapan untuk:

  • Melanjutkan implementasi fase kedua kesepakatan
  • Pembahas transisi administrasi Gaza ke NCAG
  • Tetap menggunakan jalur komunikasi terbuka dalam kerangka BOP untuk menekan Israel

Juru bicara HAMAS, Hazem Qassem, menyatakan bahwa ancaman melanjutkan pertempuran justru meremehkan pengaturan yang telah disepakati Dewan Perdamaian (BoP) dan berpotensi merusak upaya meneguhkan gencatan senjata serta mencegah konfrontasi baru.

Namun di sisi lain, Times of Israel melaporkan adanya pesan internal dari pimpinan HAMAS di Gaza kepada Pimpinan HAMAS di Qatar agar tetap siap menghadapi kemungkinan invasi ulang, karena mereka meyakini Israel bisa kembali melakukan operasi militer.

Kesimpulan dari laporan ini, HAMAS menjaga dua hal sekaligus:

  1. Komitmen pada diplomasi melalui upaya yang telah disepakati Dewan Perdamaian (BoP)
  2. Kesiapsiagaan terhadap eskalasi.

Sejumlah pernyataan pejabat Israel memperkuat kekhawatiran eskalasi.

Smotrich bahkan memperkirakan pelucutan akan gagal dan menyebut opsi pendudukan kembali Gaza serta pemerintahan militer.

HA Hellyer dari RUSI menilai bahwa jika seluruh proses digantungkan pada pelucutan HAMAS di tahap awal, maka kegagalan di titik itu akan menggugurkan seluruh fase berikutnya dan membuka jalan bagi kembalinya perang skala penuh.

Semoga Allah memberikan pertolongan kepada saudara kita di Palestina baik di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Sumber : https://www.theguardian.com/world/2026/feb/25/disputes-hamas-disarmament-threaten-gaza-peace-plan-progress

Pernyataan Jubir HMS bisa dibaca pada saluran telegram berikut https://t.me/almadinatv/186969

(Kang Irvan Noviandana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *