BOM KERETA CEPAT!! Hutangnya memang ngeriiiii, Rp 100 triliun

Kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh katanya jadi simbol kemajuan bangsa, setidaknya itu dikatakan berkali-kali oleh Presiden Ke-7 Joko Widodo.

Harga tiketnya? Yang pasti lebih mahal berpuluh-puluh kali lipat daripada KRL atau dua kali lipat Argo Parahyangan kelas ekonomi.

Jakarta ke Bandung cuma 45 menit, lebih cepat dari waktu tempuh KRL Bogor-Jakarta yang lebih dari sejam.

Tapi ini bukan perkara harga tiket, melainkan soal proyek kebanggaan Jokowi ini lebih mirip proyek coba-coba.

Sebab: Operasionalnya bikin dompet negara megap-megap, pendapatan tiketnya tak cukup menutupi operasional.

Jadi. makin kenceng Whoosh ngebut, makin kenceng pula lubang utangnya. Singkatnya, ini bukan sekadar kereta cepat, tapi juga mesin bakar duit yang “whoooosh” juga buat negara.


Bicara soal kereta cepat, biaya awal proyek ini mulanya disepakati sebesar 6,02 miliar dolar AS, tapi kemudian bengkak jadi 7,22 miliar dolar AS.


Dari total investasi itu, sekitar 75 persen, biayanya boleh ngutang lewat China Development Bank (CDB), dengan total utang mencapai 5,415 miliar dolar AS atau setara Rp81,2 triliun.


Sementara, bunga tahunan buat utang pokoknya sebesar 6,02 miliar dolar AS adalah 2 persen. Tapi karena kelebihan biaya alias cost overrun, bunganya lebih tinggi lagi, 3,4 persen per tahun.

Hitung-hitungan kasarnya, KCIC harus bayar bunga sekitar 120,9 juta dolar AS (Rp 2 Triliun) setiap tahun. Dan catat baik-baik: itu baru bunganya, belum termasuk cicilan pokok yang harus dibayar KCIC.

Bukan cuma bengkaknya biaya proyek kereta cepat. Sejak diresmikan pada 2023, penjualan tiket Kereta Cepat Whoosh ternyata masih jauh dari kata “sehat”.


Sepanjang 2024 saja tiket yang terjual cuma sekitar 6,06 juta. Jika diasumsikan rata-rata harganya Rp250 ribu, total duit yang masuk hanya Rp1,5 triliun.


Kedengarannya besar, tapi masalahnya beban bunga dari utang kereta cepat ini hampir Rp2 triliun! Jadi, ibarat peribahasa, penjualan tiket ini kaya besar pasak daripada tiang.

Jika ini terjadi, bukan tak mungkin keuangan PT KCIC jadi tambah tekor. Dan kalau defisit makin lebar, jalan pintas yang paling mungkin diambil cuma satu: nambah utang lagi.

Komentar