BLUNDER MENTERI DESA

BLUNDER MENTERI

Oleh: Joko Intarto (Wartawan senior)

Ada apa dengan Menteri Desa Yandri Susanto, seperti begitu alergi terhadap Alfamart dan Indomaret? Benarkah Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan sebagai calon pesaing Alfamart dan Indomaret?

Betul-betul blunder. ​Pernyataan Menteri Desa Yandri Susanto soal pembatasan Alfamart dan Indomaret demi melapangkan jalan bagi Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar kebijakan publik yang keliru. Statemen tersebut memamerkan betapa dangkalnya logika ekonomi seorang pejabat Menteri di kursi kekuasaan

​Jika pemerintah mulai alergi terhadap kesuksesan anak bangsa sendiri, kita sedang menuju arah yang salah. Seharusnya pemerintah mendorong lebih banyak lagi peritel modern sekelas Alfamart dan Indomaret agar bisa bertarung di level regional, bahkan global.

Menggunakan argumen bahwa Alfamart dan Indomaret “sudah terlalu kaya” sebagai alasan pembatasan adalah logika yang sangat bodoh. Sejak kapan kesuksesan membangun gurita bisnis nasional menjadi sebuah dosa yang harus dihukum oleh negara?

Narasi ini bukan hanya kekanak-kanakan, tapi juga berbahaya. Alih-alih memacu standar kompetisi, menteri kita justru memilih cara instan: menjegal yang sudah lari kencang agar yang lambat terlihat hebat.

Menteri Desa mungkin sedang berhalusinasi bahwa begitu beroperasi, Koperasi Desa Merah Putih bisa seketika menggantikan efisiensi ritel modern. Padahal prosesnya tidak sesederhana itu.

Mari bicara realitas: Jangankan bicara soal menggantikan, untuk sekadar bertahan hidup tanpa disuntik APBN saja, koperasi model begini biasanya sudah megap-megap di tahun kedua.

Ritel modern kuat karena sistem logistik yang presisi, teknologi canggih, dan manajemen yang bersih. Kekuatan itu tidak diperoleh Alfamart-Indomart secara instan. Kekuatan itu diperoleh melalui proses bisnis yang berdarah-darah selama bertahun-tahun.

Apakah menteri yakin “orang-orang titipan” di koperasi desa bisa menandingi itu? Sejarah kita penuh dengan bangkai koperasi plat merah yang mati segera setelah pita peresmiannya digunting.

Perbedaan antara Alfamart-Indomaret dengan Koperasi Merah Putih adalah soal “DNA”. ​Alfamart dan Indomaret lahir dari darah dan air mata kompetisi pasar. Mereka tumbuh karena memahami kebutuhan masyarakat, bukan karena dipaksa menteri atau penguasa.

Hal ini berbeda dengan ​Koperasi Merah Putih sebagai proyek pesanan dari atas (top-down). ​Pengelola koperasi yang lahir dari instruksi pejabat biasanya punya mentalitas “pegawai proyek”, bukan petarung bisnis. Mereka tidak punya beban jika rugi, karena yang hangus bukan uang pribadi mereka, melainkan uang negara.

Tanpa inisiatif dari bawah, koperasi ini hanyalah mayat hidup yang dibalut seragam dengan jargon “merah putih”.

Memaksa warga desa menggunakan koperasi yang kualitasnya belum jelas dengan cara membatasi pilihan mereka (ritel modern) adalah bentuk penindasan terselubung.

Sejauh yang saya pahami dari penjelasan Presiden, Koperasi Merah Putih hadir di desa untuk menyediakan produk berupa barang dan jasa yang tidak sama dengan Alfamart-Indomart.

Fokus Koperasi Merah Putih adalah melayani kebutuhan masyarakat desa untuk meningkatkan produksi pertanian seperti pupuk, pestisida dan sarana pertanian lainnya.

Selain itu, Koperasi Merah Putih akan menjadi kepanjangan tangan lembaga keuangan dalam pembiayaan kredit pertanian, peternakan dan perikanan.

Koperasi Merah Putih juga akan diarahkan untuk menyerap hasil pertanian wilayah setempat untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.

Dari ketiga fokus tersebut, bagian mana yang dikuasai Alfamart-Indomaret? Tidak ada satu pun. Kedua ritel modern itu tidak masuk ke wilayah bisnis tersebut.

Karena itu, Koperasi Merah Putih tidak akan terganggu oleh keberadaan Alfamart-Indomart, meski suatu ketika ketiga entitas bisnis itu hadir di desa yang sama.

Bagaimana kalau suatu saat Koperasi Merah Putih memperluas layanan dengan menyediakan kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti halnya Alfamart-Indomaret? Tidak masalah.

Pemenang persaingannya akan ditentukan oleh konsumen. Siapa yang bisa menyediakan produk lebih lengkap dan pelayanan lebih bermutu dengan harga lebih ekonomis, dialah yang akan menjadi juara.

Dengan dukungan pemerintah, kalau hanya menyediakan produk yang sama, saya yakin Koperasi Merah Putih bisa. Tapi untuk memberikan pelayanan lebih baik dengan harga lebih ekonomis? Tidak semudah itu, Ferguso….(jto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *