Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).” (HR. Muslim)
Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman.
Masalahnya bukan pada hadisnya.
Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
“Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.”
Sekilas terdengar meyakinkan.
Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut.
Nabi tidak pernah menyebut Syiah
Hadis itu hanya mengatakan:
“Yahudi dari Isfahan.”
Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran.
Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah.
Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab.
Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?
Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali.
Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya.
Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit
Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah:
“seperti perisai yang dipukul.”
Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini.
Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk.
Tetapi penting dicatat:
Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu.
Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis.
Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern.
Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
Ini menunjukkan satu hal penting:
tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka.
Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern
Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti:
- Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
- Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.
- Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini.
Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali.
Dan bisa saja berubah lagi di masa depan.
Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan.
Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita
Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya.
Lalu kita berkata:
“Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.”
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah:
kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis,
lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi.
Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu.
Ini bukan cara membaca hadis yang sehat.
Pesan hadis akhir zaman sebenarnya sederhana
Hadis-hadis tentang Dajjal tidak diturunkan agar kita sibuk menebak-nebak geopolitik masa depan.
Tujuannya jauh lebih sederhana:
- memperingatkan tentang fitnah besar
- menegaskan pentingnya iman dan ilmu
- mengingatkan agar manusia tidak mudah tertipu oleh kekuatan dan propaganda
Itulah sebabnya Nabi justru menganjurkan membaca Surah al-Kahfi untuk menghadapi fitnah Dajjal.
Bukan memetakan konflik geopolitik dunia dan memasukkan asumsi kita tanpa ilmu
Penutup
Karena itu para ustaz, dai, dan tokoh yang gemar membahas hadis-hadis akhir zaman perlu lebih berhati-hati dalam menjelaskannya.
Hadis tidak boleh dijadikan alat untuk: menyudutkan kelompok tertentu, memanaskan konflik sektarian, atau secara tidak sadar membenarkan pelanggaran kemanusiaan.
Alih-alih sibuk menebak siapa pengikut Dajjal hari ini, mungkin yang lebih penting adalah memastikan kita sendiri tidak ikut terseret oleh fitnah kebencian dan manipulasi agama.
Jangan pula seolah kita menormalisasi pelanggaran hukum internasional dan pelanggaran nilai-nilai kemanusian kita dalam konflik dan peperangan saat ini.
Karena sering kali yang kita kira sebagai “pesan Nabi” sebenarnya hanyalah opini
kita sendiri yang mengatasnamakan Nabi.
Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Nabi. Beraaatt ini konsekuensinya 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen






