Belum juga sebulan dicabut, mau dibatalkan

PAWANG AMERIKA

✍🏻Agustinus Edy Kristianto

Belum juga sebulan sejak diputuskan untuk dicabut melalui rapat daring terbatas dari Inggris (19/1/2026) karena dinilai berkontribusi terhadap banjir Sumatera, kelihatannya pemerintah mau membatalkan keputusan mencabut izin tambang emas Martabe (operator PT Agincourt Resources, anak perusahaan PT United Tractors Tbk/UNTR).

Jika benar batal, kita tak perlu heran. Status saya 24 Januari 2026 sudah meragukan kesungguhan keputusan yang dipuji sebagai keputusan tegas bak petir di siang bolong oleh sebagian orang pendukung kekuasaan. Kalau saya realistis saja. Rasanya naif, ya, kalau kita bermimpi ratusan ribu hektare lahan konsesi Agincourt itu kelak akan dijadikan sepenuhnya hutan alam untuk mendukung lingkungan, apalagi di dalamnya terbukti ada cadangan emas dan mineral lainnya (sekitar 6,4 juta ons emas & 58 juta ons perak per Juni 2025).

Pendeknya, saya menduga ujungnya bakal antiklimaks, akan ada kompromi. Tapi waktu itu saya belum tahu bagaimana kompromi akan terjadi dan siapa pawangnya sampai akhirnya adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, kasih bocoran.

Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup itu mengungkap bahwa salah satu pebisnis asal Amerika Serikat mengeluhkan pencabutan izin atas perusahaan pertambangan emas di wilayah Sumatera.

Begini kutipan lengkapnya seperti saya ambil dari Harian Kontan (Jumat, 13/2/2026): “Seorang pebisnis Amerika mengatakan kepada saya, ‘Hashim, Anda harus memberi tahu saudara Anda, izin ini harus dipulihkan.’ Kebetulan itu perusahaan tambang emas. Saya tidak akan menyebut nama.”

Lalu muncullah berita Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan pernyataan adanya peluang pemulihan izin pertambangan emas Martabe.

Artinya, pebisnis Amerika kenalan adik presiden itu lumayan sakti juga. Jika pebisnisnya saja lumayan sakti, tentu Presiden Amerikanya jauh lebih sakti.

Itulah juga mungkin yang membuat Indonesia masuk Dewan Perdamaian Gaza bentukan Paman Sam dan rela membayar iuran Rp16 triliun.

Tak cuma di Mahkamah Konstitusi, di mana-mana yang namanya paman harus diakui boleh juga mainnya.

Kembali ke soal Agincourt, kira-kira siapa pebisnis Amerika sakti yang berbisik ke adik presiden itu? Tepatnya siapa, saya tidak tahu. Tapi baunya bisa kita endus!

Saya cek Yahoo Finance (12/2/2026) untuk melihat major holders asal Amerika di saham UNTR sebagai pengendali Agincourt.

Berturut-turut adalah The Vanguard Group, Inc. (berbasis di Pennsylvania, mengelola lewat Vanguard Total International Stock Index Fund dan Vanguard Emerging Markets Stock Index Fund); BlackRock, Inc. (basisnya di New York, mengendalikan melalui produk iShares Core MSCI Emerging Markets ETF); Massachusetts Financial Services (basis di Boston, kelolaannya MFS Emerging Markets Equity Fund yang merupakan pemegang reksa dana terbesar di UNTR); Lazard Asset Management LLC (New York, kelolaannya Lazard Emerging Markets Equity Portfolio); Dimensional Fund Advisors (Texas).

Ada juga Pacer Advisors, Inc. yang memegang UNTR, tapi relatif lebih sedikit ketimbang lima institusi di atas.

Jika asumsinya harga UNTR Rp25.000/lembar, maka total nilai ekuitas kelima institusi Amerika itu kira-kira adalah Rp5,8 triliun dengan Vanguard (Rp1,54 triliun) dan BlackRock (Rp1,5 triliun) yang terbesar.

Vanguard dan BlackRock relatif bersifat sebagai investor pasif (biasanya mengikuti indeks seperti MSCI atau FTSE), sementara MFS dan Lazard lebih aktif dan keputusan investasinya bergantung pada analisis terhadap kinerja operasional emiten. Bayangkan saja, PT Agincourt Resources menyumbang sekitar 15-20% terhadap laba bersih UNTR (tergantung harga emas). Pencabutan izin permanen akan memicu mass-selling oleh institusi aktif seperti MFS karena akan merusak valuasi jangka panjang UNTR. Inilah alasan logis mengapa “bisikan” tersebut sangat efektif.

Meskipun kelihatannya kelima institusi Amerika itu hanya menguasai sekitar 6% dari kapitalisasi pasar UNTR yang mencapai Rp92,78 triliun, tapi merekalah sesungguhnya pengendali saham publik (free float) UNTR. Dari 40,5% saham free float UNTR, merekalah yang pegang porsi besar. Mereka batuk sedikit, kapal bakal goyang.

Walakin, di atas semua perhitungan angka tersebut, kita harus berterima kasih kepada adik presiden atas informasinya, karena di balik tampilan luar betapa berkuasa penuh dan galaknya pemimpin yang sekarang, ternyata tetap ada pawangnya dan pawangnya adalah orang Barat!

Salam,
AEK

Komentar