
Beasiswa LPDP dan Saudi, Apa Bedanya?
Oleh: Budi Marta Saudin (WNI Guru di Saudi)
Ramai di media sosial, ada seorang ibu yang menjadikan anaknya sebagai warga negara Inggris, karena merasa itu lebih baik baginya.
Netizen ramai menghujat, pasalnya, si ibu dan juga bapak anak ini adalah peraih beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia.
Sebenarnya mudah sih, apakah orang yang mendapat beasiswa LPDP ini ada syarat harus pulang ke Indonesia atau tidak? Dalam Islam, seseorang harus memenuhi perjanjiannya. Almuslimuna ala syuruthihim.
Kalau gak ada perjanjian apapun, bisa saja dia berkarier dimanapun, dan itu akan bermanfaat baginya dan juga bagi Indonesia.
Dalam sharing session dengan Ilham Habibie (putra BJ Habibie) bersama mahasiswa King Saud University (KSU) beberapa tahun lalu, beliau menyarankan, jika memang tidak pulang dan bermanfaat di negeri orang, maka itu adalah satu hal yang bagus.
Kata beliau: “Daripada pulang juga belum tentu bisa berbuat maksimal.”
Beliau kemudian memberikan contoh kepada para diaspora India yang dikenal cakap dan menempati posisi penting di perusahaan dunia.
“Orang India itu dikenal sebagai perantau dan membawa nama baik bagi negaranya. Mereka banyak memimpin perusahaan besar dunia,” kata putera BJ Habibie ini.
Beda Beasiswa Saudi
Jika para penerima beasiswa LPDP ada beban moral untuk kembali mengabdi ke tanah air setelah lulus, beda dengan penerima beasiswa Saudi, yang bebas dia mau kemanapun semaunya setelah lulus.
Penerima beasiswa kampus Saudi tidak terikat perjanjian apapun. Bahkan yang mengambil jurusan keagamaan, tidak ada kewajiban harus memiliki pandangan yang sama dengan madzhab kerajaan Saudi. Dia bebas menjadi apapun.
Lama masa studi di kampus Saudi pun tidak hitung-hitungan masalah waktu. S1 bisa sampai 7 tahun, begitupun S2 dan S3, lebih lama dari kuliah di kampuas lainnya.
Saking asyiknya, banyak yang kuliah di Saudi, dia terlena, hingga akhirnya lupa, dan tahu-tahu usia sudah kepala 4 saja.
Banyak juga yang terjebak dalam frasa “Yang penting kuliah di Saudi, apapun jurusannya”, hal ini menjadikan seringnya kita dapati ada doktor pendidikan tapi lebih suka isi pengajian tentang fikih dan aqidah. Atau ada juga lulusan teknik yang lebih memilih jalur menjadi da’i atau penceramah.
Sejauh ini, alhamdulillah, sangat minim alumni Saudi yang kesulitan mencari pekerjaan.
Dengan branding alumni Saudi, minimal orang percaya bahwa dia bisa mengajar bahasa Arab, jadi imam masjid, khotib, hingga penceramah.
Paling populernya, alumni Saudi dipercaya orang untuk jadi konsultan haji dan umrah. Bahkan, seringkali, saat masih kuliah, sering ditanya-tanya orang tentang teknis umrah dan ibadah rukun Islam kelima ini.
(*fb)







Setiran2 nya Saudi yg masih berpondasikan ajaran Islam, masih LEBIH BAIK DARI KONONHAHA YG PENUH PARA PEJABAT BUANGSAT> PREMAN, TUKANG PALAK, KAKI TANGAN OLIGARKI & KEBEJATAN LAEN,….
YG TERAKHIR YG SUKA TEREAK2 ANTEK ASING TERNYATA ANTEK TRUMPET & SETANYAHOK