
*NOTE: Sebelumnya akun fb Balqis Humaira mengungkp sepak terjang Menteri Zulhas (saat jadi Menteri Kehutanan) yang telah menyebabkan deforestasi hingga banjir bandang dan longsor sekarang di Sumatera. Gara-gara tulisan Balqis Humaira yang viral itu, sekarang kolom komentar akun resmi Instagram menteri Zulhas dibatasi.
Berikut ini tulisan ke-2 akun Balqis Humaira yang diposting hari ini, Sabtu (29/11/2025).
✍🏻Balqis Humaira
Pak Menteri. Gue ngomel begini bukan mau adu kuat kuatan. Gue ngomel karena hutan yang lo teken izinnya itu gak punya mulut. Gajah yang lo bikin gelandangan itu gak punya akun sosmed buat teriak. Sungai yang lo jadikan selokan industri itu gak punya ruang klarifikasi. Jadinya siapa? Bocah ingusan kayak gue yang lo sebut cuma berisik di internet. Padahal yang gue omongin bukan cocoklogi, bukan teori mase-mase, tapi angka dan dokumen yang tanda tangan lo sendiri yang jadi bukti.
Gue ngomel bukan bikin keluarga lo miskin. Anak lo tetap sekolah di tempat bagus. Karier politik lo tetap aman. Rumah lo tetap berdiri gagah. Sementara gajah Sumatra, yang dulu punya rimba ribuan hektar, sekarang jadi gelandangan kayak korban gusuran proyek properti. Ironi? Enggak. Ini fakta kelam yang lo tinggalkan.
Lo tau SK 673/Menhut-II/2014? Yang lo tanda tangan 8 Agustus 2014 itu? Isinya bukan dua halaman doa keselamatan hutan. Isinya melepaskan 1.638.249 hektar kawasan hutan jadi bukan hutan. Tambah lagi 717.543 hektar lo ubah fungsinya. Total lebih dari dua juta hektar kawasannya lo ubah statusnya kayak lagi geser folder di laptop.
Dua juta hektar itu apa? Itu rumah gajah, itu tanah adat, itu sisa paru-paru Sumatra. Bukan tanah kosong nganggur.
Lalu ada SK 878/Menhut-II/2014. Lo teken lagi tanggal 29 September, hitungan hari sebelum lo turun jabatan. Lo kunci peta baru Riau yang isinya ngelegalin semua perubahan besar yang barusan lo bikin sebelumnya.
Kalau anak SMA ngelakuin ini, jelas dibilang ngapus jawaban menit terakhir sebelum bel pulang. Tapi kalau menteri ngelakuin, disebut kebijakan. Padahal logikanya sama: buru-buru, mepet, dan mencurigakan.
Dan bagian yang bikin gue makin naik darah: semua perubahan hutan itu bukan jatuh ke rakyat kecil. Yang ketiban rezeki justru perusahaan-perusahaan raksasa pulp, paper, dan sawit. Grup APRIL dapet 327 ribu hektar. APP/Sinar Mas dapet hampir 14 ribu hektar. Total HTI yang diuntungkan dari perubahan status hutan lo itu 340 ribu hektar.
Belum lagi sawit. Ada 55 korporasi sawit yang diuntungkan dari SK yang lo teken itu. Totalnya 135 ribu hektar. Itu bukan kebun kecil. Itu skala negara dalam negara. Semua dapet “pemutihan” setelah bertahun-tahun operasi ilegal di kawasan hutan.
Apa gak bangsat? Perusahaan bisa ngerambah dulu, bikin hutan kopong dulu, baru kemudian di-“halal”-in pakai tanda tangan pejabat. Itu bukan kebijakan publik. Itu mekanisme cuci dosa korporat pakai stempel negara.
Terus ketika publik nanya, lo bilang semua izin PT Palma Satu ditolak. Lo bilang gak ada izin yang lo kasih. Padahal SK lo itu jadi payung besar yang melegalkan semua lahan yang udah mereka garap. Jadi maksud lo gimana? Ditolak tapi dimutihkan? Di atas kertas nolak, tapi di lapangan perusahaan dapat manfaat dari perubahan peta? Ini kayak lo bilang “gue gak ngasih kunci motor lo”, tapi lo buka pintu garasinya lebar-lebar. Itu bukan nolak, Pak. Itu pura-pura nolak.
Gue bukan ahli hukum, tapi logikanya sederhana. Lo bikin aturan besar yang menguntungkan korporasi yang selama ini beroperasi ilegal. Trus bilang “kami menolak izin perusahaan itu”. Itu namanya permainan bahasa, bukan integritas kebijakan.
Belum lagi momen ketika Harrison Ford dateng dan nanya soal Tesso Nilo. Dia abis ngeliat hutan jebol, gajah mati, sawit ilegal seluas negara kecil, lalu dia tanya kenapa pemerintah diem aja. Lo ketawa kecil. Dia bilang “This is not funny.” Karena dia baru lihat sendiri 20 ribu perambah masuk taman nasional kayak tanpa negara. Lo bilang Indonesia gak punya Rambo. Pak, rakyat bukan minta Rambo. Rakyat cuma nanya: lo punya hati apa enggak? Hutan taman nasional kok bisa tinggal nama.
Dan lebih ngena lagi: lo sendiri pernah bilang di Riau ada 4 juta hektar kebun sawit, dan 2 juta hektar ilegal. Itu setengahnya. Bukan 5 persen, bukan 10 persen. Setengahnya ilegal. Tapi apa? Di masa jabatan lo, kebijakan justru memberi ruang legal bagi korporasi-korporasi yang dulu beroperasi gelap.
Jadi ketika lo tutup kolom komentar hari ini, dari mana tepatnya rasa tersinggung itu datang? Dari fakta yang rakyat ungkap? Atau dari kenyataan bahwa data ini bikin narasi “gue pro rakyat” jadi goyah?
Orang sering bilang “jangan serang personalnya, serang kebijakannya”. Fine. Gue serang kebijakannya. Kebijakan yang lo tanda tangan itu mencabut status hutan jutaan hektar. Kebijakan itu menguntungkan puluhan perusahaan raksasa. Kebijakan itu beririsan dengan skandal suap gubernur. Kebijakan itu mengubah kawasan konservasi jadi proyek industri. Kebijakan itu meninggalkan Sumatra kayak ladang luka.
Dan gue ngomel bukan karena gue benci lo. Gue ngomel karena gue gak punya akses ngomong langsung ke kamar rapat tempat keputusan dibuat. Gue gak punya panggung di Senayan. Gue cuma punya mulut dan data. Dan lo tau apa yang paling ngeselin? Di bangsa ini, mulut rakyat kecil selalu dianggap berisik, tapi tumpukan kayu gelondongan yang hanyut di sungai setelah banjir dianggap “bencana alam”.
Padahal kayu itu lebih jujur dari semua konferensi pers. Dia ngambang di sungai sambil bilang: lihat, ini bukan hujan. Ini deforestasi. Ini bukan azab. Ini kebijakan.
Jadi kalau ada yang harus tersinggung, bukan lo. Yang harus tersinggung itu gajah yang rumahnya hilang. Sungai yang rusak. Warga yang kebanjiran karena DAS dibabat. Petani yang kehilangan tanah. Anak-anak yang hidup di kampung yang jadi titik panas tiap musim kemarau.
Lo boleh punya jabatan, punya partai, punya panggung. Tapi hutan cuma punya satu pembela: suara orang-orang biasa yang lo anggap bawel.
Dan kalau suara gue dianggap kurang sopan, ya wajar. Alam yang lo babat itu mati bukan dengan sopan santun. Dia mati dengan raungan chainsaw dan laju excavator. Jadi jangan minta gue halus hanya karena jabatan lo tinggi.
Ini bukan soal gue lawan lo.
Ini soal negara lawan lupa dirinya sendiri.
Dan gue cuma pengingat kecil di pojok layar.
(Sumber: fb)
[VIDEO lawas saat Menhut Zulhas diomeli Harrison Ford soal kerusakan hutan]






