✍🏻Muhlisin Ibnu Muhtarom
PERTANYAAN SEMACAM ITU sesungguhnya adalah pertanyaan klasik dalam teologi: Bagaimana memahami keberadaan dan keadilan Tuhan di tengah tragedi? Dalam khazanah ilmu kalam, ini dikenal sebagai problem theodicy—ikhtiar rasional untuk menjelaskan relasi antara kemahakuasaan Tuhan, kejahatan, dan penderitaan. Tradisi Islam tidak menafikan realitas derita; ia justru mengakuinya sebagai bagian dari sunnatullah dalam sejarah manusia.
Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah dār al-ibtilā’ (ruang ujian), bukan dār al-jazā’ (ruang pembalasan final). Ujian itu mencakup rasa takut, lapar, kehilangan jiwa, dan harta. Dengan demikian, kehancuran suatu wilayah atau gugurnya tokoh-tokoh penting tidak serta-merta menjadi indikator absennya Tuhan, melainkan bagian dari dinamika ujian kolektif dan historis. Ukuran keberpihakan Ilahi tidak dibaca dari statistik militer, tetapi dari nilai takwa dan kesabaran.
Kedua, konsep ma‘iyyatullāh (kebersamaan Allah) dalam teologi Islam bersifat kualitatif, bukan geografis atau politis. Allah “bersama” orang-orang yang sabar, adil, dan bertakwa—artinya bersama dalam makna pertolongan moral, bimbingan, dan penjagaan iman. Kebersamaan ini tidak selalu identik dengan kemenangan instan atau dominasi politik. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa kebenaran sering melewati fase keterdesakan sebelum memperoleh kejelasan makna.
Ketiga, kegagalan politik atau kekalahan militer tidak identik dengan kekalahan teologis. Dalam sejarah Islam sendiri, terdapat peristiwa-peristiwa pahit yang justru menjadi sarana purifikasi/pemurnian moral dan konsolidasi spiritual. Teologi Sunni maupun Syiah sama-sama mengakui bahwa dosa kolektif, perpecahan internal, dan kelemahan etis dapat menjadi sebab dicabutnya pertolongan lahiriah. Artinya, introspeksi moral adalah bagian dari respons iman, bukan tuduhan terhadap Tuhan.
Keempat, pertanyaan “di pihak mana Tuhan berada?” mengandung asumsi antropomorfis—seakan-akan Tuhan adalah aktor geopolitik yang berpihak pada blok tertentu. Dalam tauhid murni, Allah tidak menjadi instrumen ideologi siapa pun. Dia Mahatinggi dari reduksi politik. Yang dituntut dari manusia bukanlah memastikan Tuhan berada di pihaknya, tetapi memastikan dirinya berada di jalan yang diridai Tuhan: jalan keadilan, amanah, dan kemanusiaan.
Kelima, tragedi kemanusiaan harus dibaca dalam dua horizon sekaligus: horizon dunia dan horizon akhirat. Dalam horizon dunia, kezaliman bisa tampak dominan; dalam horizon akhirat, keadilan Ilahi bersifat absolut dan tak terelakkan. Keyakinan eskatologis ini bukan pelarian, melainkan fondasi moral agar manusia tetap tegak membela yang tertindas tanpa terjerumus pada nihilisme.
Akhirnya, pertanyaan “atau sesungguhnya Tuhan tak pernah ada?” adalah refleksi eksistensial yang lahir dari kepedihan, bukan semata dari argumentasi rasional. Jawaban agama bukan sekadar logika, tetapi juga kesaksian spiritual dan etika profetik: bahwa iman justru menemukan kedalamannya saat diuji. Dalam perspektif tauhid, Tuhan tidak absen dari sejarah; manusialah yang kerap absen dari nilai-nilai-Nya.
(Dijawab oleh AI. Zaman sudah modern, jangan pusing dengan hal yg tidak perlu dipusingkan ya wkwkwk)







pertanyaan yg juga si Kesot fan zionist sering tanya
bangsa biadab kyk isra hell juga tetap dia puji2