Diriwayatkan Abu Hurairah, ayat ini turun ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Sang Nabi langsung membacakan surat ini kepada mereka. Para sahabat penasaran, siapa yang dimaksud dengan “kaum lain” (وَءَاخَرِينَ مِنْهُمْ) yang nanti akan bergabung sebagai pengikut Rasulullah.
Nabi diam sampai tiga kali pertanyaan itu diajukan. Kemudian, ia menempelkan tangannya di punggung Salman al-Farisi, seorang Persia yang jauh berkelana menjemput Islam. “Bahkan jika iman itu terletak di bintang, orang-orang dari kaum ini (Persia) akan mencapainya,” kata Rasulullah.
Namanya juga Nabi, kata-katanya terbukti kemudian. Tak hanya hampir semua orang Persia jadi Muslim, bangsa itu juga melahirkan pembela-pembela agama yang gagah.
Imam Bukhari (abad ke-9) yang kumpulan riwayat haditsnya jadi acuan Ahlussunnah, adalah seorang Persia yang lahir di Bukhara. Hadits soal turunnya ayat-ayat awal Surah Al-Jumuah di atas juga ia yang melestarikan.
Demikian juga Fakhruddin al-Razi, ulama abad ke-12 yang lahir di Ray, wilayah Iran saat ini. Kitabnya Al-Tafsir al-Kabir, merupakan salah satu pegangan tafsir kalangan Sunni dengan teologi Asy’ariyah.
Ada juga Imam Al-Ghazali. Dijuluki Hujjatul Islam ulama besar ini lahir di Thus, juga di wilayah Iran saat ini. Karya monumentalnya, Ihya Ulumuddin, jadi rujukan hingga kini.
Ada Al Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Omar Khayyam yang ilmunya bermanfaat tak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi umat manusia.
Adalah menyedihkan bahwa kala Iran diserang oleh Israel macam sekarang, ada sebagian orang Islam yang bersorak dengan anggapan bahwa ini (pura-pura) perang Yahudi melawan Majusi.
Orang-orang Persia tak pernah memilih bahwa moyang mereka adalah Majusi. Tak ada manusia yang bisa memilih siapa moyang mereka. Rasulullah paham ini. Ia memilih melihat potensi yang baik-baik dari manusia.
Saat dilempari batu oleh penduduk Thaif, beliau menolak tawaran malaikat mengazab mereka. Ia meyakini, dan terbukti kemudian, penduduk wilayah itu, juga keturunan mereka, bakal jadi orang baik.
Rasulullah tak seperti kita orang yang mencari-cari terus keburukan bahkan pada saudara sendiri… Kebiasaan yang kerap membutakan kita dari setan sebenarnya.
(Fitriyan Zamzami)






