Bahayanya Memilih Presiden yang Pikun
✍🏻dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP
Ada masa ketika pidato pemimpin dunia diperlakukan seperti dokumen kenegaraan: ditimbang, dipilih, dan dijaga.
Sekarang, sebagian pidato terdengar seperti status media sosial yang kebablasan—impulsif, penuh sindiran, dan kadang berubah-ubah tergantung panggungnya.
Ketika itu terjadi pada Presiden Amerika Serikat, dampaknya tidak berhenti di satu negara. NATO ikut panas, sekutu ikut gelisah, pasar ikut tegang. Dan wajar bila publik bertanya: ini strategi yang terukur, atau ada penurunan kemampuan mengendalikan diri?
Yang sering disalahpahami masyarakat adalah mengira “pikun” itu hanya soal lupa.
Padahal, dalam dunia medis, kemampuan memimpin bukan cuma soal mengingat angka dan nama.
Memimpin juga soal menahan diri, menjaga alur berpikir, peka terhadap konteks sosial, dan memahami konsekuensi ucapan.
Jadi, ketika seorang pemimpin berbicara seolah tidak punya rem—terlalu spontan, terlalu mudah menyulut konflik, terlalu cepat memindahkan beban masalah ke pihak lain—orang akan mulai curiga: ada sesuatu yang berubah.
Demensia, secara umum, adalah gangguan fungsi otak yang menyebabkan penurunan kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Ini bukan “kurang pintar,” bukan “kurang iman,” dan bukan pula sekadar kebiasaan lupa yang lucu-lucu.
Demensia adalah masalah biologis yang nyata, yang sering meningkat risikonya seiring bertambahnya usia dan dipengaruhi kondisi kesehatan pembuluh darah seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, dan riwayat stroke kecil-kecil yang kadang tidak disadari.
Di titik ini kita perlu membedakan dua hal: pelupa biasa karena usia, dan demensia.
Pelupa biasa biasanya masih bisa “dikoreksi”: diingatkan, lalu nyambung.
Demensia lebih dari itu—orangnya mulai kesulitan memahami konteks, menilai situasi, merencanakan tindakan, atau menjaga keputusan tetap konsisten.
Dan ada satu tipe yang sangat relevan untuk dipahami publik karena sering tidak terlihat seperti “pelupa,” yaitu frontotemporal dementia (FTD).
FTD adalah kelompok gangguan demensia yang terutama menyerang bagian depan dan samping otak—area yang bertugas mengatur kontrol diri, penilaian sosial, perencanaan, empati, dan cara kita berbahasa.
Karena yang terganggu lebih dulu adalah “pengendali perilaku” dan “filter sosial,” FTD bisa terlihat seperti perubahan karakter: seseorang menjadi lebih impulsif, lebih mudah mengatakan hal yang tidak pantas, lebih agresif atau lebih dingin, lebih tidak peka, dan lebih sulit memahami batasan-batasan sosial yang dulu bisa ia jaga dengan baik.
Inilah perbedaan besar FTD dibanding demensia yang paling sering orang kenal, yaitu Alzheimer.
- Pada Alzheimer, secara umum, masalah awal yang paling menonjol adalah memori—lupa kejadian baru, lupa menaruh barang, lupa janji, lalu perlahan disusul gangguan fungsi lain.
- Pada FTD, yang sering muncul lebih dulu justru perilaku dan kepribadian: cara bicara berubah, keputusan makin ceroboh, kontrol emosi kacau, bahkan empati menurun. Orang bisa tampak “tegas” padahal sebenarnya “kehilangan rem.” Orang bisa tampak “berani” padahal sebenarnya “tidak lagi mampu menyaring.”
Ada juga demensia vaskular—yang terkait kerusakan pembuluh darah otak, misalnya akibat hipertensi lama, diabetes, atau stroke berulang.
- Demensia vaskular sering tampak seperti penurunan yang “bertahap tapi bertangga”: hari ini memburuk setelah kejadian tertentu, lalu stabil, lalu memburuk lagi. Gejalanya bisa campur: lambat berpikir, sulit fokus, mudah bingung, gangguan langkah, gangguan keseimbangan, dan bisa disertai perubahan emosi.
- Bedanya dengan FTD: pada demensia vaskular, pemicunya sering jelas terkait pembuluh darah dan faktor risiko metabolik; sementara pada FTD, perubahan perilaku bisa sangat dominan sejak awal meski memori tampak relatif baik di tahap awal.
FTD sendiri punya beberapa bentuk:
- Ada yang dominan perilaku, di mana seseorang menjadi impulsif, kehilangan norma sosial, lebih kasar, lebih mudah tersulut, atau malah tampak datar tidak peduli.
- Ada yang dominan bahasa, di mana kemampuan berbicara, mencari kata, atau memahami bahasa perlahan menurun.
- Dari sisi awam, orang sering salah mengira FTD sebagai “kepribadian buruk,” “makin tua makin menyebalkan,” atau “memang dari dulu begitu.” Padahal, dalam beberapa kasus, perubahan itu adalah sinyal bahwa otak benar-benar sedang sakit.
Kalau kita tarik ke panggung global, kita tidak perlu berpura-pura buta terhadap realitas politik: gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat saat ini sering memicu kekacauan diplomatik. Pernyataan yang terasa impulsif dan berubah-ubah membuat sekutu sulit menebak arah kebijakan.
Dalam logika sehari-hari, hubungan yang sehat butuh kepastian. Di klinik pun begitu: pasien butuh rencana terapi yang konsisten. Kalau dokter hari ini bilang A, besok bilang B tanpa alasan jelas, pasien akan kehilangan kepercayaan. Negara pun sama. Ketika pemimpin terlihat sulit menahan ucapan, yang rusak bukan hanya etika bicara—yang rusak adalah stabilitas.
Namun, sebagai dokter yang berpikir ilmiah, saya harus tegas juga pada batasnya: kita tidak bisa mendiagnosis demensia atau FTD pada seseorang hanya dari potongan pidato atau video. Diagnosis butuh pemeriksaan langsung, penilaian kognitif terstruktur, riwayat dari orang terdekat, dan menyingkirkan penyebab lain seperti gangguan tidur, depresi, efek obat, atau kondisi medis lain. Tetapi masyarakat tetap berhak menilai satu hal yang sangat praktis: apakah seorang pemimpin menunjukkan konsistensi, kontrol diri, dan kemampuan menimbang kata-kata—atau justru sebaliknya.
Dan di sinilah bahaya memilih pemimpin yang secara umum menunjukkan penurunan kemampuan kontrol diri—apa pun penyebabnya. Karena pemimpin bukan sekadar pembuat kebijakan; ia adalah sumber sinyal. Kalimatnya bisa jadi komando, bisa jadi ancaman, bisa jadi kepastian, bisa jadi kekacauan. Kalau sinyalnya liar, birokrasi akan sibuk memadamkan api, bukan bekerja membangun.
Konteks Indonesia
Pelajaran yang lebih besar, terutama untuk Indonesia: Kesehatan otak pemimpin bukan isu personal—ini isu keselamatan publik. Seperti sopir bus antarkota: kita boleh kasihan jika ia sakit, tapi kita tetap tidak akan menyerahkan kemudi bus penuh penumpang pada seseorang yang kontrolnya menurun.
Kewaspadaan adalah bentuk cinta pada masa depan. Karena negara bisa tahan menghadapi musuh di luar, namun bisa runtuh oleh ketidakstabilan dari dalam—termasuk dari mulut yang terlalu cepat, pikiran yang terlalu impulsif, dan keputusan yang tidak lagi punya rem.
EPW 22/1/2026
*Ket. Foto: Presiden RI, Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di sela KTT Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir, pada Senin 13 Oktober 2025.







Komentar