Azan Terakhir Bilal

Ini puasa hari ke-4, dan ke-5 bagi yang mengikuti fatwa Muhammadiyah.

Puasa kali ini, berat bagi saya pribadi. Puasa pertama, dada rasanya sesak. Sulit bernafas. Sulit bersendawa. Sendawa saya seperti tertahan di dada. Tidur pun sulit, entah kenapa?

Tadi usai Subuh sempat menangis mendengar kisah Bilal bin Rabbah, yang meninggalkan kota Madinah, setelah Rasulullah wafat.

Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah setelah Rasulullah SAW wafat karena kesedihan mendalam dan ketidakmampuan menahan rindu saat mengumandangkan azan. Ia pindah ke Syam (Damaskus) untuk berjihad, menolak menjadi muazin di Madinah, dan menetap di sana.

Bilal sempat mengunjungi kota Madinah, saat itu Khalifahnya adalah Umar bin Khattab. Bilal didatangi cucu Rasulullah, Hasan dan Husein, agar kembali mengumandangkan azan seperti saat Rasulullah masih hidup.

Permintaan kedua cucu Rasulullah itu, tak langsung dikabulkan Bilal. Setelah Umar bin Khattab mengetahui kedatangan Bilal, maka Umar meminta Bilal kembali mengumandangkan azan seperti dulu, dan Bilal tak bisa lagi menolak.

Saat Bilal mengumandangkan azan, kota Madinah seperti sepi dan khusyuk mendengarkan azan Bilal yang legendaris itu. Bukan suara Bilalnya, tapi ingat bersama Rasulullah-nya.

Pada saat kalimat, Asyhadu anna Muhammadarrasulullah (أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللَّٰهِ), suara Bilal tercekat dan ia menangis.

Bilal terus saja menangis dan tak bisa lagi meneruskan azannya. Penduduk kota Madinah pun ikut menangis.

Dan entah kenapa, saya pun ikut menangis mendengar kisah Bilal itu. Menangis karena mengingat Rasulullah SAW……Shollu ‘Alannabi…

Dan Alhamdulillah, setelah menangis mengingat Rasulullah SAW, entah kenapa, dada saya yang sesak selama 4 hari ini, tiba-tiba saja plong dan seperti kembali pada kondisi sebelumnya. Alhamdulillah….

Bahkan saya menangis saat membuat tulisan ini…..Shollu ‘Alannabi.

(Erizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar