āš»Saief Alemdar (Analis internasioal)
Hingga hari ketiga, tampaknya jelas bahwa penargetan Pemimpin Tertinggi Iran tidak memengaruhi jalannya perang, dan ini menjadi bukti bahwa perhitungan Washington dan Tel Aviv tidak akurat. Menurut kalkulasi AS-Isreal bahwa begitu āhead of snakeā (kepala ular) itu ditargetkan, rakyat akan bangkit dan rezim akan jatuh. Tetapi yang terjadi bukanlah seperti yang mereka harapkan, malah rakyat Iran makin solid.
Ini berarti bahwa pertempuran ini sedang menuju war of attrition alias perang habis-habisan, dan jika berlangsung satu bulan dan Iran masih intact, maka tidak menutup kemungkinan Netanyahu akan jatuh dan diadili, kalau belum mati. Trump pun kemungkinan besar akan menghubungi presiden Turki untuk intervensi dan menghentikan perang, dan Erdogan akan intervensi dengan inisiatif win-win solution untuk menyelamatkan temannya, Trump.
Tetapi bagaimana dengan Naga Tiongkok?
Tiongkok diam-diam mendukung Teheran dengan persediaan rudalnya karena Beijing mengimpor sekitar 1,38 juta barel minyak per hari dari Iran dengan harga lebih rendah dari harga pasar global, sekitar $60 per barel. Karena alasan ini, Tiongkok tidak akan membiarkan Washington memenangkan perang ini. Beijing percaya bahwa kemenangan Washington dalam perang ini berarti bahwa mereka akan menggeser permainan ke Taiwan, yang tentu saja ini merupakan skenario yang paling mungkin.
Tetapi bagaimana dengan pemain yang diam, London?
Inggris belum bisa move on sakit hati ketika Amerika Serikat menyeretnya ke Perang Dunia II, menguras kekuatan dan ekonominya, dan hingga kini Inggris masih membayar harganya. Oleh karena itu, saat ini mereka menonton dari pinggir lapangan sambil menikmati apple & cinnamon crumble + hot custard. Mereka mungkin akan ikut campur jika Moskow melakukan kesalahan di arena Iran; saat ini, mereka mengamati semuanya secara diam-diam.
Bagaimana dengan Damaskus?
Pihak ketiga biasanya mengamati semua pihak dari pinggir lapangan. Sejauh ini Damaskus belum mengutuk serangan Israel, juga belum bersimpati kepada Teheran. Oleh karena itu, mereka bertindak berdasarkan prinsip “enemy of my enemy is my friend”, dan menerapkan strategi bermain dua kaki. Singkatnya: semakin lama Washington terjebak dalam rawa-rawa Iran, maka pihak yang diuntungkan adalah Damaskus, Ankara, Moskow, dan Beijing.
Adapun Beruang Rusia, kemungkinan besar mendukung Iran melalui intelijen dan satelit, karena perang ini akan menentukan nasib perang di Ukraina dan kemudian di Taiwan.
Sejauh ini, jelas bahwa jalannya perang antara Tel Aviv dan Washington VS Teheran telah berubah arah, yang berarti bahwa Iran telah sepenuhnya mengubah aturan main. Pegerakan di Lebanon, dan kemudian di Irak, serta menargetkan pangkalan militer Amerika di Teluk, setidaknya Teheran telah mengejutkan dunia dengan keunggulan udara rudal dan kemampuan untuk menargetkan sasaran secara presisi di laut dan di udara. Kita bicara Iran, sebuah negara yang kena embargo dunia sejak 1979, dan yang dilawan Iran adalah Isreal dan AS, bukan milisi bersenjata atau Ormas!
Seorang sahabat di Tehran mengatakan tadi, āKali ini lebih parah, Dadashi, dibanding dengan perang 12 hari Juli 2025 laluā¦ā.
Semoga Allah merahmati para Syuhada di Iran, dan semoga eskalasi militer ini segera berhenti, kasihan yang mau mudik Lebaranā¦.
(*)






