AS Hadapi Krisis Logistik di Tengah Perang Iran, Sekutu Tolak Permintaan Bantuan Trump

Memasuki hari ke-12 perang melawan Iran, militer Amerika Serikat menghadapi kekurangan serius persediaan rudal pertahanan udara di kawasan tersebut, menurut seorang sumber militer yang mengetahui situasi tersebut.

Melalui seorang sumber di lingkungan Angkatan Darat AS yang memiliki akses langsung terhadap operasi militer Amerika, dilakukan penilaian terhadap upaya logistik Washington dalam memindahkan persenjataan dari berbagai lokasi strategis di seluruh dunia menuju kawasan Asia Barat.

Sumber tersebut mengatakan kepada Press TV bahwa pasukan AS kini berpacu dengan waktu untuk mengirimkan senjata dari berbagai teater strategis global ke kawasan tersebut, seiring menipisnya persediaan secara cepat. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari serangan balasan kuat Iran dalam Operasi True Promise 4.

Pemindahan darurat tersebut dilakukan setelah serangkaian serangan drone dan rudal Iran dalam beberapa hari terakhir berhasil mengenai targetnya, baik di wilayah pendudukan Israel maupun di pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Situasi ini sekaligus memperlihatkan celah serius dalam kemampuan pertahanan udara Amerika.

Kegagalan tersebut mendorong Presiden AS Donald Trump untuk secara mendesak meminta bantuan dari sekutu-sekutunya di Eropa dan Asia Tenggara. Namun, menurut sumber tersebut, permintaan itu justru mendapat penolakan luas.

Berdasarkan penilaian tersebut, persediaan rudal pertahanan udara milik AS di kawasan telah terkuras secara signifikan. Akibatnya, sistem yang masih tersisa tidak lagi mampu sepenuhnya mencegat serangan rudal dan drone balasan yang terus dilancarkan Iran serta kelompok-kelompok dalam poros perlawanan di kawasan.

Menghadapi krisis yang semakin membesar, Trump dilaporkan melancarkan tekanan diplomatik intensif dengan menghubungi sejumlah pemimpin negara di Eropa dan Asia Tenggara melalui sambungan telepon. Dalam percakapan itu, presiden AS disebut menunjukkan kemarahan dan kekecewaan mendalam atas keengganan mereka untuk ikut terlibat dalam perang.

Trump mendesak para sekutunya agar mengirim kapal perang serta mengerahkan sistem radar buatan AS untuk membantu mencegat rudal Iran dan kelompok poros perlawanan.

Namun respons dari ibu kota negara-negara sekutu sebagian besar bernada penolakan.

Menurut sumber militer tersebut, hanya satu pemimpin negara yang—di tengah tekanan domestik dari publik dan partai politik—menyatakan bersedia mempertimbangkan permintaan tersebut.

Sementara itu, tiga negara lainnya secara tegas menolak permintaan Trump.

Penolakan diplomatik ini menunjukkan semakin besarnya keengganan komunitas internasional untuk terseret ke dalam konflik yang terus meluas. Perang tersebut dipaksakan kepada Iran pada 28 Februari lalu setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dalam sebuah serangan.

Para analis militer menilai sikap penolakan para sekutu AS mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas: mereka tidak ingin terjebak dalam perang berkepanjangan yang dapat menimbulkan dampak tak terduga terhadap pasokan energi global dan stabilitas kawasan.

Sementara itu, tekanan logistik terhadap pasukan Amerika terus meningkat karena konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga kini, angkatan bersenjata Iran telah melancarkan 37 gelombang serangan rudal dan drone terhadap Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Asia Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *