Sebuah laporan di AS menyebut, bahwa sistem pertahanan udara dan sistem radar AS yang dihancurkan Iran di seluruh kawasan teluk saat ini impact-nya sangat besar.
AS butuh waktu sedikitnya 8 tahun untuk memperbaiki kerusakan ini. Dan akan memakan dana miliaran dolar.
Iran menepati janji sebelum perang, bahwa jika perang pecah, maka Iran akan menghancurkan semua aset militer AS di kawasan itu. Dan itu terbukti benar.
Anda bisa lihat negara negara arab tanpa bantuan sistem pertahanan udara dari AS? Jangankan untuk membalas serangan, hanya untuk menjaga dirinya sendiri saja sulit. Semua negara arab kena rudal Iran selama perang ini, dan AS tidak mampu melindunginya.
Seluruh kawasan teluk dan timur tengah terbukti ada dalam bidikan Iran dan seluruh target Iran dihancurkan. AS dan Israel sendiri tidak mampu melindungi semua mitra mitra nya.
Ini juga memberikan analisis yang kuat bahwa, Israel jika tidak dibantu AS, nasibnya akan sangat tidak bisa dibayangkan. Dengan Bantuan AS saja saat ini, Israel tetap luluh lantak dan hancur.
Realitas ini tidak dapat dipungkiri, sehebat apapun elit politik AS dan Israel beretorika di gedung putih atau di Tel Aviv. Fakta di lapangan menunjukkan durabilitas Iran yang resilient dalam menghadapi tekanan dan perang sekalipun telah terbukti.
Kehancuran sistem pertahanan udara dan radar AS di seluruh kawasan teluk dan timur tengah, dan juga kehancuran pangkalan pangkalan militer AS disana, akan dilihat sebagai ” a New Geopolitical Dynamic” eskalasi yang signifikan, dan sebuah perimbangan kekuatan yang bergeser secara strategis di kawasan itu(Balance of Power).
Rusia dan China terutama mempelajari dengan baik realitas ini untuk “nasehat” pertahanan masa depan mereka jika suatu saat terjadi konflik terbuka dengan AS. Seperti konflik terbuka antara Rusia dan AS saat ini di Ukraina.
Beberapa anggota kongres dan senat AS saat ini telah mengakui jatuhnya banyak korban tentara AS dalam perang ini, tapi mereka menuduh Rusia sebagai pemasok informasi intelijen kepada Iran yang membuat Iran berhasil banyak dalam melakukan serangan ke aset aset militer AS.
Tuduhan ini sebenarnya bukan omong kosong, Rusia dan China saat ini memang membantu Iran dari sisi intelijen untuk memastikan AS mendapatkan pukulan dari perang ini. Bantuan intelijen yang diberikan China dan Rusia diakui sendiri oleh Menlu Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara terbaru kemarin.
Rusia dan China melihat perang yang dilakukan AS dan Israel adalah ancaman terhadap kepentingan nasional strategis mereka di timur tengah, dan situasi ini tidak dapat dibiarkan berlarut. China dan Rusia memiliki perjanjian kerjasama strategis dengan Iran. Iran – China selama 25 tahun, dan Iran -Rusia selama 20 tahun kedepan.
AS mau mengakui atau tidak, mendapatkan realitas yang pahit dalam perang ini, apalagi jika nanti akhirnya gagal menggulingkan pemerintahan Iran. Ini akan menjadi pukulan psikologis berat untuk AS dan terutama untuk Trump sendiri.
Perang gegabah yang dilakukan AS dan Israel di Iran saat ini akan menuntut harga yang mahal dan kerugian strategis. Trump sangat gegabah menyeret AS kedalam perang ini hanya karena tekanan Netanyahu. Bukan karena prioritas membela core kepentingan nasional AS.
Iran berhasil mengacaukan semua rencana AS, memukul aliansi AS di kawasan itu, memaksa USS Abraham Lincoln kabur, menguasai selat Hormuz dan menekan ekonomi global, memaksa semua kepentingan intelijen Israel dan AS disana angkat kaki dan menderita berat.
Iran memaksa AS berpikir berulang kali untuk melanjutkan perang besar dan panjang, Iran berhasil memaksa rakyat AS untuk pesimistis dengan perang yang dilakukan Trump saat ini.
Perang ini menunjukkan situasi yang sangat berbeda, dua kekuatan nuklir yang memiliki stok nuklir 6000 hulu ledak di gudangnya, menyerang sebuah negara yang telah di embargo setengah abad. AS menerima kenyataan bahwa mereka di tampar di pipi nya oleh Iran. Iran slaps both Israel and US very hard.
Iran menguasai Medan tempur dengan baik, menguasai lapangan, menguasai strategi, dan memiliki daya tahan jika terjadi perang panjang.
Pengeboman sporadis yang dilakukan AS dan Israel di seluruh kota kita di Iran tidak sama sekali menimbulkan kekacauan strategis. Para pemimpin Iran dan para pengambil kebijakan di Iran masih rapi dan solid mengeksekusi berbagai agenda strategis mereka walaupun bekerja dibawah tanah.
Perang di Iran adalah realitas baru era GeoPolitik Multipolar, saat banyak kekuatan baru lahir menchallange supremasi AS di kancah global dan langsung praktek di lapangan. Iran menjadi bahan riset penting bagi konflik dunia Multipolar dimasa masa mendatang.
Kalkulasi AS saat awal perang yang beranggapan bahwa Iran mampu dijatuhkan dengan cepat langsung meleset. Pembunuhan Grand Ayatollah Ali Khamenei sama sekali tidak menimbulkan kekalahan strategis bagi Iran dan angkatan bersenjata mereka.
Kenyataan pahit di lapangan ini akan memberikan kesadaran kepada AS dan Israel, bahwa perang ini benar benar tidak mudah dan diluar ekspektasi. Kenyataan pahit di lapangan perang saat ini akan dilanjutkan dengan kenyataan pahit tambahan bagi posisi AS sebagai super power dalam tatanan global di hari hari mendatang.
(Tengku Zulkifli Usman)






