Pertanyaan ini kembali ramai dibicarakan di tengah eskalasi konflik Iran-Israel-AS pada Maret 2026. Ramalan bahwa Israel akan “lenyap” atau musnah pada tahun 2027 sering dikaitkan dengan Syekh Ahmad Yassin, pendiri Hamas yang wafat pada 2004. Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 5 Juni 1999, beliau menyatakan: “Saya katakan, Insya Allah Israel akan hancur di awal abad mendatang, tepatnya pada 2027, Israel tidak akan ada lagi.” Prediksi ini viral kembali sejak perang meletus akhir Februari 2026, dengan banyak yang mengaitkannya sebagai “kenyataan mendekati”.
Dasar ramalan Yassin berpijak pada interpretasi Al-Quran, khususnya Surah Al-Isra’ ayat 4-8. Ayat tersebut menceritakan Bani Israil (keturunan Yakub) yang membuat kerusakan dua kali di bumi, lalu dihancurkan oleh musuh dari luar. Yassin menafsirkan siklus generasi 40 tahun: pendirian Israel 1948 sebagai “generasi pertama”, Intifada 1987 sebagai “generasi kedua”, dan 2027 (40 tahun kemudian) sebagai akhir “generasi ketiga” di mana kehancuran terjadi. Beliau menekankan entitas yang dibangun atas kezaliman dan penjarahan tanah pasti runtuh, sesuai janji Allah.
Narasi serupa muncul dalam kajian ulama Indonesia, seperti Ustadz Adi Hidayat yang sering membahas tafsir Al-Isra’ tentang pola sejarah Bani Israil, meski tidak secara eksplisit menyebut tahun 2027 sebagai akhir pasti. Beberapa ceramah lokal juga menghubungkan perang saat ini—dengan korban sipil, serangan rudal Iran, dan shelter roboh di Israel—sebagai tanda proses tersebut.
Namun, apakah ini benar-benar akan terjadi? Prediksi ini bersifat interpretatif dan spekulatif. Al-Quran memang bicara pola sejarah dan kehancuran bagi yang zalim, tapi tidak menyebut tanggal spesifik. Konflik 2026 memang intens: serangan AS-Israel menewaskan pemimpin Iran, balasan rudal Iran menimbulkan korban di Israel, dan ketegangan regional tinggi. Beberapa analis Barat bahkan memprediksi potensi regime change di Iran atau eskalasi berkepanjangan, tapi tidak ada konsensus bahwa Israel akan lenyap dalam setahun ke depan.
Fakta menunjukkan Israel tetap kuat secara militer (Iron Dome, dukungan AS), meski menghadapi tekanan internal dan internasional. Ramalan Yassin lebih sebagai motivasi perlawanan dan iman kepada janji ilahi, bukan prediksi ilmiah. Di tengah perang, yang terpenting adalah doa untuk perdamaian, keadilan, dan akhir penderitaan rakyat Palestina serta korban di semua pihak.
Pada akhirnya, hanya Allah yang tahu masa depan. Tahun 2027 masih satu tahun lagi—waktu akan menjawab. Yang bisa kita lakukan: tetap berpegang pada kebenaran, dukung kemanusiaan, dan hindari kebencian buta.






