Validasi Asing
Ada satu pertanyaan mengusik yang selalu muncul dari benak saya terhadap orang-orang sebangsa. Pertanyaan itu adalah: Mengapa orang-orang Indonesia selalu butuh validasi — yang datangnya dari orang-orang luar.
Ini tidak sekali dua kali saya alami. Ketika ada orang asing menari tarian Indonesia, umumnya orang bersorak: wah kebudayaan kita dihargai di luar negeri! Ketika ada bule main gamelan atau jadi dalang wayang, kebanggan kita naik sampai ke bulan. Kebudayaan adiluhung kita dihargai oleh orang asing! Selalu butuh validasi dari orang asing.
Juga apa yang diucapkan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia ini dalam hal keikutsertaan Indonesia dalam “Board of Peace”-nya Trump. Bukti pengakuan dunia? Halllooooooo …
Mengapa harus mencari validasi bahwa kita diakui dunia lewat Trump? Sebagian besar negara tidak ingin bergabung. Mereka tahu ini tidak serius dan juga korup.
Kebutuhan akan validasi ini juga diikuti oleh nasionalisme kadar tinggi. Saya tahu, orang Indonesia itu bangganya sama negerinya minta ampun. Tidak di dalam negeri, tidak juga di luar negeri.
Namun, ada juga bagian sedapnya. Yaitu kontradiksi bahwa kebutuhan akan validasi ini diimbangi ketidakmampuan berada dalam situasi asing. Jadi, dalam psyche kebanyakan orang Indonesia ada kebanggaan luar biasa pada diri sendiri, sekaligus kebutuhan akan validasi dari pihak luar!
Ketika masih tinggal di luar negeri, saya sering mendapat kunjungan kolega dari tanah air. Hal yang pertama ditanyakan, “Eh, dimana ada makanan Indonesia?” Wooooiiiiiii … Anda ke negeri orang. Cobain makanan mereka kek. Atau makanan dari berbagai negeri lain — yang hampir semua ada tempat saya tinggal dulu. Tapi, orang-orang kita selalu nyari nasi Padang!
Memang kenapa kalau makan pizza, pasta, bagels, pastrami, dll. itu? Gak kenyang, Bro! Gimana dengan nasi Biryani? Itu juga kurang kenyang, Bro. Nasinya keras. Ngak pulen.
Ketika masih ada Warung Padang yang lumayan di kota sebrang tempat saya tinggal, orang Indonesia yang datang biasanya saya bawa ke sana. Yang punya orang Padang. Wuih, reaksinya biasanya berbusa-busa. Hebat ya, makanan kita dihargai di luar negeri!
Kemudian saya cerita kisah pemilik warung yang Minang asli. Dia kerjasama dengan seorang Jewish yang jadi investornya. Dan seterus, dan seterusnya. Sekalipun saya tahu kawan ini anti Yahudi hingga ke bulu-bulunya, tetap aja dia tidak lupa memuji betapa enaknya masakan Padang yang dia nikmati barusan!
Secara naluriah, orang Indonesia itu anti asing. Itu pondasi nasionalismenya. Tapi secara naluriah pula, sangat ingin mendapat validasi orang asing — bahkan hingga bongkokkan tetap memberlakukan mental orang jajahan.
Ini tidak sekali saya alami. Pernah saya antri di satu resepsionis hotel. Kebetulan ada orang asing datang dan langsung nyerobot. Dia bertanya sesuatu. Eh, keterusan dan dilayani. Tentu saja, tekanan darah saya langsung naik. Saya tegur si asing dan si petugas resepsionir. Dalam bahasa asing tentu saja. Si asing minta maaf dan ke belakang ikut antri.
Si petugas melihat saya dengan sebal. Dan, tentu saja, saya kemudian menolak dilayani dalam bahasa Indonesia — bahasa ibu saya! Saya ingin mengikuti logika dia bahwa bahasa Indonesia itu bahasa kaum terjajah.
Saya masih meraba-raba untuk memahami semua fenomena ini. Mungkin juga saya tidak akan paham. Karena kebutuhan akan validasi ini hanya dilakukan ke pihak luar. Pihak asing. Di satu sisi kita anti asing, di sisi lain kita butuh validasi mereka. Ingat bagaimana presiden kita membandingkan MBG-nya dengan McDonald? Di satu sisi dia teriak anti-asing di setiap pengkolan. Di sisi lain, dia benar-benar butuh validasi dari McDonald.
Dari sini juga ada kontradiksi lain. Si resepsionis tadi sangat mudah takluk pada orang asing. Ini sebenarnya juga terjadi di bidang lain. Betapa kejamnya penguasa kita kepada rakyatnya sendiri. Bahkan boleh dibilang brutal. Masih ingat bagaimana polisi menilang orang di jalanan? Atau serdadu yang mengusir penduduk dari tanah-tanah milik mereka karena secara ijin itu ada di wilayah perkebunan? Itu ada. Videonya bersliweran di media sosial.
Tapi kita jinak banget sama asing yang punya kuasa. Bagaimana kita jadi kucing yang manis di depan Trump? Bagaimana pemimpin kita tergopoh-gopoh ikut parade militernya Si Jinping walaupun ibukota masih berasap akibat kebakaran kerusuhan?
Asing yang selalu mengancam, tapi asing pula yang memberikan validasi. Yang memberikan ‘imprimatur’ atas kebijakan-kebijakan politik kita.
Ke dalam kita selalu menganggap diri adiluhung, kaya raya, gemah ripah. Sekaligus kita menjadi korban karena walau kita kaya, kita dirampok asing. Kita ditipu asing.
Namun sesungguhnya? Kita itu miskin! Iya, dari sisi apapun kita itu miskin. Kita punya hutan, tapi hutan tidak membuat kita kaya. Hutan membuat elit-elit kita kaya! Kita punya tambang. Itu tidak membuat kita kaya. Tambang membuat elit-elit kita maha kaya.
Kita tidak ada pengaruh sama sekali. Itu harus saya katakan dengan jujur. Siapa yang takut dengan Indonesia? Saya menonton TV dan berbagai macam podcast luar negeri tentang Board of Peace. Tidak ada satu pun yang nyebut Indonesia disana. Kenyataan yang menyedihkan? Iya! Masih ingat ketika pemimpin kita ikut foto bersama sesudah parade militer di Beijing? Media-media luar meng-crop wajah pemimpin kita. Seolah kita tidak ada. Yang ada tentu saja Jinping. Putin, dan Jong Uhn.
Jadi, kita benci asing karena diremehkan; sekaligus kita butuh asing untuk memberi validasi. Pada saat yang sama, kita mengilusikan diri sebagai bangsa yang besar, yang kaya, dengan warisan adiluhung — seolah jaman berhenti di awal abad 19 saat kita makmur dibawah jajahan Belanda! Dan persis pada saat yang sama juga, para penguasa kita bertingkahlaku yang plek sama seperti penjajah Belanda terhadap kawula-kawula pribumi.
Ini sungguh sebuah psikologi kebangsaan yang rumit!
(MADE SUPRIATMA)







Komentar